Pembangunan Infrastruktur Vital bagi Perekonomian

PEKERJAAN infrastruktur nasional sudah terlihat hasilnya pada tahun ini, walau dengan susah payah beberapa  tahun lalu pemerintah terus berupaya agar hasilnya bisa diakui 2016. Patut diacungi jempol memang di masa 2015 yakni hampir seluruh belahan dunia mengalami kelesuan.

Belum lagi dampak melemahnya ekonomi Cina yang mana merupakan salah satu negara terbesar di dunia yang sudah pasti naik turun ekonomi negara tersebut memberikan dampak besar bagi negara berkembang.

Apalagi Cina merupakan salah satu importir komoditi dari negara kita yang beberapa tahun terakhir selalu menjadi topangan ekonomi nasional, contohnya batu bara. Hal itu diungkapkan praktisi properti, Semadi Putra, belum lama ini.

Kondisi 2015 lalu, pihaknya rasakan memang sangat berat sekali, namun pemerintah tetap yakin melaksanakan pekerjaan infrastrukturnya. Terbukti awal 2016 beberapa jembatan, ruas jalan tol, airport, pelabuhan, pekerjaan awal tol atau infrastruktur lainnya sudah mulai bisa di pergunakan oleh masyarakat luas, sehingga ketika infrastruktur ini terbangun secara otomatis akan membuat sebuah pergerakan ekonomi baru. Misalnya, dengan jalan tol Cipali, akses dari Jawa Barat / Jakarta menuju Jawa Timur menjadi lebih cepat, sehingga barang bisa di kirim lebih cepat lebih banyak lebih murah.
Harapannya adalah rakyat di seluruh Indonesia mendapatkan barang dengan harga yang sama dengan daerah lainnya. Namun hal ini tidak akan terjadi tanpa Infrastruktur yang baik. Selain itu, banyak pula kawasan wisata baru yang belum terjamah yang bahkan mungkin lebih baik dari Bali namun karena infrastrukturnya belum baik membuat daerah tersebut tertinggal dan tidak populer.

Di sisi lain dari tekanan pemerintah untuk menggenjot kegiatan infrastruktur tentu harapan penerimaan  negara adalah dari pajak. Pemerintahan yang baru memang mengejar APBN yang lebih menitik beratkan pada pendapatan dari sektor perpajakan dan bukan dari komoditas seperti pemerintahan sebelumnya. Walaupun memang penjualan menjadi sebuah beban berat bagi para pengusaha saat ini, tidak hanya pengusaha properti atau pengembang properti tetapi juga hampir semua jenis usaha mengalami kelesuan yang sama.

Dampak terhadap lesunya penjualan di semua lini tentu akan menyebabkan penurunan penerimaan negara. Namun excsuse ini tidak terjadi di Indonesia. Karena peraturan perpajakan di Indonesia menganut sistem yang selalu menganggap segala jenis usaha pasti mengalami peningkatan setiap tahunnya. Apabila mengalami penurunan makan perusahaan tersebut harus diperiksa dulu.Beratkah untuk pengusaha? jawabannya pasti.

Apa yang dilakukan pemerintahan tetangga? Malaysia contohnya. Mereka “mungkin” menunjukkan worry akan melemahnya ekonomi dunia, sehingga mereka berpikir untuk memberikan stimulus lebih terhadap para investor dari negara kita untuk mau berinvestasi disana. Contoh, mereka memberikan kesempatan bagi para investor yang mau menjadi pengembang disana dengan memberikan kesempatan usaha bebas pajak selama 10 tahun, dengan kata lain, setiap transaksi yang dilakukan di suatu kawasan yang telah ditunjuk oleh pemerintahan malaysia tersebut akan bebas pengenaan pajak alias 0 persen. (gun)