Peluang Pasar Perbankan belum Tergarap Optimal

Denpasar (Bisnis Bali) – Peluang perbankan meningkatkan kualitas hingga penguatan modal sepertinya masih belum mencapai target yang ingin disasar. Pasar yang menjadi sasaran bank masih belum tergarap optimal karena terbentur kondisi ekonomi.

“Kita harapkan dari kinerja perbankan triwulan I 2019 ini, pertumbuhan penyaluran kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga tidak kecil,” kata pemerhati perbankan, Kusumayani, M.M. di Sanur, Selasa (15/1).

Ia mengatakan, kondisi ekonomi yang membaik serta kinerka bank yang bagus tahun lalu ini menjadi kesempatan baik bagi bank-bank untuk lebih meningkatkan kualitasnya. Peningkatan kualitas dari sisi SDM, teknologi, permodalan, pelayanan, produk, sosialisasi dan lainnya. Ia juga menilai, peluang pasar bank sesungguhnya masih terbuka lebar di dalam negeri dan belum optimal tergarap. Masih banyak daerah yang belum tersentuh layanan bank.

“Oleh karenanya, peluang ini yang seharusnya segera diisi dengan bekerja sama (branchless banking) salah satunya lewat KUR bunga rendah dan kepastian sasarannya,” katanya.

Menurut dia, ini juga sebagai upaya persiapan bank menunju MEA 2020 untuk perbankan. Bersaing dengan bank asing tidak mutlak harus buka operasional bank di negara ASEAN. Guna menguatkan posisi di dalam negeri dan bisa melayani seluruh pasar di daerah juga bisa dipilih, sehingga nantinya pasar tidak dikuasai bank asing.

Sebelumnya Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menjelaskan, kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan diperkirakan tumbuh kuat dengan pertumbuhan kredit perbankan di kisaran 13±1%, dengan rasio NPL diproyeksikan turun pada akhir 2019. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) diperkirakan juga meningkat menjadi 8-10 persen.

Optimisme ini juga turut diperlihatkan oleh pelaku perbankan yang tercermin dalam Rencana Bisnis Bank 2019, yang menargetkan ekspansi kredit dan DPK masing-masing 12,06 persen dan 11,49 persen.

OJK pun optimis tren perbaikan perekonomian dan kinerja sektor jasa keuangan yang positif akan terus berlangsung pada 2019. OJK memprediksi perekonomian diperkirakan mampu tumbuh 5,3 persen dengan inflasi yang terjaga relatif rendah di level 3,5 persen. (dik)