Bio Inokulum, Solusi Sukses Membuat Bibit dengan Stek

MEMBUAT bibit tanaman dengan sistem stek, saat ini sangat mudah dengan menggunakan bio inokulum. Semua jenis tanaman berkambium, saat ini bisa diperbanyak dengan cara stek dengan cepat dan mudah.

Kepala UPT Simantri Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali, Dr. I Wayan Sunada, SP. M.Agb., melakukan penelitian sekitar 2 tahun untuk menghasilkan bio inokulum. “Bio inokulum ini kami ciptakan untuk membantu petani memperbanyak tanaman secara vegetatif (stek), percepatan pembungaan dan pembuahan,” tuturnya beberapa waktu lalu di Kantor Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Provinsi Bali.

“Bio inokulum ini bisa digunakan untuk stek semua jenis tanaman yang berkambium, bahannya ramah lingkungan, 100 persen organik, sedikit pun tidak ada kimia, sesuai visi misi Gubernur Koster,” tandasnya.

Bio inokulum sudah mulai disosialisasikan kepada petani meski belum diproduksi secara massal.

“Kami belum produksi masal. Karena proses  pembuatan cukup panjang melakukan percobaan gagal, coba lagi selama 2 tahun akhirnya ditemukanlah produk ini secara sempurna,” ungkapnya.

Cara penggunaan juga sangat sederhana, batang tanaman yang akan dijadikan bibit pilih yang tidak terlalu muda tidak terlalu tua. “Setelah batang dipotong, batang bagian bawah disayat (dilukai) tunggu getahnya kering, kemudian celupkan dalam bio inokulum beberapa menit. Setelah itu tunggu hingga kering baru tanam dalam polibag atau langsung tanam di lahan,” tuturnya.

Dikatakan, latar belakang pembuatan bio inokulum ini adalah saat panen, komoditas pertanian membanjiri pasar menyebabkan harganya sangat murah. “Dengan bio inokulum ini, kita bisa menciptakan buah tanpa mengenal musim. Karena dia juga berfungsi sebagai pupuk organik, saya sudah sosialisasi ke petani agar menggunakan bio ini, kita sudah buat percontohkan di Sedang menggunakan pupuk ini,” ucapnya.

Selain itu dikatakan pihaknya tengah melakukan percobaan terhadap tanaman padi. “Dengan menggunakan bio inokulum ini, padi yang biasanya hanya sekali panen harus diganti  tanaman baru, bisa dipanen dua kali. Jadi saat panen pertama sisakan batang padi sekitar 15 cm, kemudian disemprot dengan bio inokulum agar bisa tumbuh normal seperti baru menanam. Dengan teknik ini tentu dapat menekan biaya pengolahan lahan sehingga keuntungan petani  jadi  berlipat-lipat,” pungkasnya. (pur)