Tabanan (Bisnis Bali) – Optimisme pemasok dan pasar properti berinvestasi di sektor properti tahun ini ( 2019) membuka harapan baru kalau peluang meningkatnya ekonomi makin signifikan. Demikian praktisi bisnis properti, Adi Nugraha, Minggu (13/1).

Dikatakan, hal ini tak berlebihan seiring munculnya stimulus dari pusat berupa kebijakan yang memihak pasar menengah bawah di dalamnya termasuk pasar milenial. Kalau program sejuta rumah dengan skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) implementasinya pada 2018 sukses mencapai target, maka untuk FLPP dengan skema tanpa batasan gaji bagi milenial pada 2019 jadi makin optimis lebih sumses lagi. Ini tak dapat difungkiri karena di tengah mahalnya harga dasar tanah diikuti operasional proyek yang tingg8, harga material yang serba mahal, pemasok jadi kesulitan untuk mempermak rumah dengan harga relatif murah. Dengan ini upaya pemerintah lewat Kementerian Pembangunan Umum Perumahan Rakyat ( PUPR) untuk menstimulasi kaum milenial dengan syarat dan ketentuan kredit rumah subsidi yang baru tentu akan meningkatkan kepemilikan rumah bagi masyarakat.

Menggeliatnya sektor properti menengah bawah juga diharaokan makin meningkatkan roda perekonomian dengan bangkitnya sektor usaha kecil menengah ( UKM) yang terlibat dalam menyukseskan setiap proyek perumahan yang dibangun pengembang. Dia menilai Bali khususnya memilii potensi besar untuk berkembang terutama bisnis propertinya. Untuk itu komitmen pemasok perumahan sangat penting agar menjaga kualitas produk dan tak semata mengejar profit. Jika ini dilakukan maka penjualan akan sulit dan sektor padat modal dan karya ini perlahan akan redup.

Sementara pasar atas yang berorientasi membidik perumahan elite untuk investasi dan spekulasi di Bali dinilai tetap akan bergerak ke arah positif, karena kini masih banyak pemodal kakap yang wait and see menunggu hasil pilpres 2019. Sebab siapa pemimpin negara ini ke depan sangat berpengaruh pada sektor properti lewat kebijakan – kebijakan yang akan dibuat.

Sementara itu Pengembang Kharisma Properti, Bagio Utomo menyampaikan bisnis properti Bali relatif aman karena didukung kondisi masyarakat dan budayanya yang adilihung. Kenyamanan ini memberi imbas positif pada prospek bisnis properti ke depan sehingga tak salah kalau pencarian produk properti oleh pemodal dunia tak pernah surut. Ini juga yang menggeliatkan bisnis jasa broker properti yang kini makin menjamur.

Dia mengharapkan adanya kebijakan yang memihak sektor properti sangat diharapkan pengembang agar upaya memenuhi kebutuhan masyarakat baik akan rumah subsidi maupun nonsubsidi dapat leboh optimal. Jika perizinan, pajak, dan lainnya dipermudah tentu akan meningkatkan geliat pengembang membangun perumahan yang layak huni dan nyaman bagi masyarakat. (gun)