BUTIK - Kain khas Bali dan kebaya yang dipajang di salah satu butik di Bali. Kain tenun khas Bali kini sudah dikenal sampai ke luar negeri dan jadi peluang meningkatkan kemandirian UMKM di daerah ini.

Tabanan (Bisnis Bali) –  Meningkatkan daya saing lulusan pendidikan tinggi menghadapi pasar bebas, sinergi dengan industri perlu ditingkatkan. Dengan sinergi yang baik angkatan kerja yang ada bisa diakomodasi industri lewat pendidikan dan pelatihan kerja maupun penyediaan peluang kerja secara memadai. Demikian praktisi pendidikan dan wirausaha, Bagio Utomo, Jumat (11/1).

Angkatan kerja yang bertambah  tiap tahun memang seharusnya didukung ketersediaan lapangan kerja dengan jumlah memadai. Dengan demikian tak ada pengangguran intelektual yang memiliki dampak luas terhadap kehidupan sosial dan lingkungan masyarakat. “Bagaimana sinergi itu dilakukan sudah tentu sejalan dengan tren pengembangan pendidikan berbasis lifeskill. Aplikasi teori di bangku sekolah atau kuliah dilakukan lewat pelatihan kerja di industri, selain penyediaan lapangan kerja baru serta motivasi menjadi wirausaha,” ujarnya.

Menurutnya, belum singkronnya lembaga pendidikan dengan industri tak dipungkiri menyebabkan ketimpangan antara angkatan kerja baru dengan jumlah lapangan kerja yang ada. Solusi lain yang ditawarkan adalah  angkatan kerja intelektual tak cukup untuk berkompetisi di bursa kerja saja. Namun sangat relevan dengan upaya pemerintah memenuhi kuota kewirausahaan nasional di atas 2 persen, tentu menjadi tantangan bagi angkatan kerja intelektual untuk bisa mengangkat potensi ekonomi di daerahnya dengan membuka usaha sendiri.

“Saya pandang ini lebih relevan daripada angkatan kerja baru hanya menunggu sesuatu tak pasti apalagi masih punya mindset harus jadi PNS, dan sebagainya,” imbuhnya.

Dalam meningkatkan daya saing sumber daya manusia (SDM) Bali, mendorong mereka untuk menjadi wirausaha adalah pilihan yang tepat. Sebab dalam era kompetisi global satu negara baru dikatakan maju ketika jumlah wirausahanya tinggi sehingga mampu menuju kemandirian ekonomi.

Sebelumnya, salah seorang pengusaha butik, Siska menyampaikan program wirausaha di kampus merupakan hal positif menumbuhkembangkan minat mahasiswa dalam berwirausaha. Dia yang mengalami itu semasih kuliah, merasakan manfaatnya sekarang.

Baginya kemandirian ekonomi harus dimulai dari komitmen generasi mudanya untuk berwirausaha dengan mengangkat berbagI potensi ekonomi yang dimiliki. Di era revolusi industri 4.0 dimana semua lini kehidupan tak lepas dari paparan teknologi digital, ini justru akan sangat membantu dalam meningkatkan dampak promosi atas produk yang di pasarkan.

Selain lebih efisien juga murah sehingga akan memberi dampak positif pada perkembangan usaha. Dia mencontohkan usaha butik busana. Dengan promosi online, jangkauan pasar lebih luas dan mampu memberi kemudahan bagi konsumen dalam transaksi. (gun)