Perajin Anyaman Bambu di Baliaga, Terkendala Pemasaran

Singaraja (Bisnis Bali) – Kerajinan anyaman bambu yang ada di Kabupaten Buleleng menjadi salah satu produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang hingga kini masih cukup potensial menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat.

Kerajinan anyaman bambu ini paling banyak dijumpai di kawasan Desa Baliaga yang meliputi Desa Sidetapa, Desa Cempaga, Desa Tigawasa dan Desa Pedawa. Bahkan di masing – masing desa ini produk kerajinan yang mereka buat memiliki ciri khasnya masing – masing.  Perajinnya pun tidak hanya orang dewasa juga yang muda turut kreatif dalam mengayam bambu.

Perbekel Desa Tigawasa, I Made Swadarmayasa belum lama ini mengungkapkan, kegiatan menganyam sokasi oleh warga di Desa Tigawasa sudah merupakan rutinitas dan menjadi mata pencaharian. Hampir semua warganya berprofesi sebagai menganyam, terutama ibu-ibu rumah tangga produktif.

Pihaknya menjelaskan, di tengah populernya kerajinan khas Baliaga ini sejumlah perajin ternyata masih saja menemui sejumlah kendala di antaranya adalah pemasaran. Mengingat selama ini perajin di Tigawasa menyerahkan sepenuhnya kerajinan mereka kepada pengepul, sehingga upah yang mereka dapatkan dari hasil penjualan sangat sedikit sisa dipotong biaya bahan. “Masih kami upayakan bagaimana cara mempromosikannya agar pemasaran lebih luas dan mendapatkan harga yang lebih baik,”terangnya.

Diketahui satu buah sokasi harganya cukup bervariasi, ditentukan oleh ukuran dan motif yang diminta oleh konsumen. Untuk motif standar harga sokasi dibandrol dari Rp 50-200 ribu perbuah. Meskipun perajin mengaku tetap mendapat  keuntungan dari penjualan. Namun  keuntungan yang didapat tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan. (ira)