Denpasar (Bisnis Bali) – Pergub No 97 tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai, yang melarang penggunaan plastik sekali pakai dan styrofoam, tampaknya belum tersosialisasi dengan baik. Pasalnya sejumlah pengusaha karangan bunga yang menggunakan bahan baku styrofoam belum mengetahui larangan tersebut.

Seorang pengusaha karangan bunga di kawasan gemeh, Denpasar, Agus mengaku tidak mengetahui Pergub tersebut. “Saya baru dengar ini, kalau tidak boleh memakai styrofoam. Jadi susah juga ya, mau pakai apa nanti,” tuturnya kepada Bisnis Bali, Rabu (9/1) di Denpasar.

Apalagi selama ini konsumen lebih banyak yang menyukai karangan bunga dari styrofoam ketimbang yang menggunakan print. “Kalau pakai styrofoam ada nilai seninya. Kalau dengan print, kurang seni,” ucapnya.

Hingga  saat ini permintaan karangan bunga styrofoam masih ada. Selain itu pasokan styrofoam juga lancar-lancar saja. “Orang pabriknya masih produksi, ya susah melarang orang tidak pakai,” tukasnya.

Pengusaha karangan bunga lainnya, Yanti juga mengaku kurang faham tentang larangan tersebut. “Yang saya tahu, tidak boleh pakai tas kresek. Makanya saya hanya tidak menggunakan tas kresek, kalau biasanya selalu pakai tas kresek,” ungkapnya.

Meski demikian ia mengaku kerap kali menyarankan konsumen untuk menggunakan benner. “Saya sering menyarankan konsumen menggunakan benner, tapi ya semua kembali kepada konsumen. Kalau mereka minta menggunakan styrofoam, ya kami buatkan,” tukasnya. Ia mengaku belum ada inovasi yang dipikirkan. Untuk harga karangan bunga berkisar Rp500 ribu.

Sementara sejumlah pihak sudah mulai, melakukan langkah inovasi dengan membuat karangan bunga ramah lingkungan. Dari bahan – bahan alami seperti anyaman bambu dan bunga segar. (pur)