KOMPETITOR - Untuk mengantisipasi kompetitor tekstil dari luar, konsumen diharapkan bisa didorong untuk menggunakan produk asli lokal.

Tabanan (Bisnis Bali) – Masyarakat Bali mesti didorong untuk mencintai produk busana hasil produksi daerahnya sendiri agar tak terpengaruh  produk impor baik di pasar tradisional maupun modern. Demikian diungkapkan pebisnis tekstil produk tekstil (TPT) Bali, Agus Aryawan, Selasa (8/1).

Produk busana baik pria maupun wanita juga tua atau muda sesungguhnya bisa diproduksi produsen lokal (Bali) dengan mengikuti mode kekinian baik busana adat, maupun modern. Bahkan dari beberapa butik atau gerai busana Bali yang kini ada, produk yang digeber tak kalah bervariasi.

Tak hanya dari sisi desain dan motif yang atraktif, merek-merek lokal juga mulai bermunculan. Kesan baru yang melekat pada performa busana buata  produsen Bali itu mestinya jadi magnet bagi konsumen Bali, sehingga upaya menuju kemandirian ekonomi perlahan dapat terwujud.

Dari sisi kecintaan warga masyarakat Bali pada produk buatan daerahnya sendiri memang perlu terus ditingkatkan. Namun yang cukup membanggakan adalah, justru wisatawan asing yang antusias terhadap produk sandang khas Bali.

Sinyalemen positif ini mesti ditangkap produsen dengan begitu tak ad khawatiran menghadapi maraknya pakaian impor baru maupun bekas yang diperjualbelikan di pasaran.

Yang perlu memperhatikan ini tentu saja bukan masyarakat konsumen saja. Tapi tokoh dan pegang kebijakan mukai di tingkat desa misalnya, ke depan lebih antisipasi dengan melubernya para pedagang pakaian impor yang justru membidik pasar lokal sebagai pembeli utama.

Contohnya pada momen Umanis Galungan dan Kuningan di salah satu lokasi muncul pasar rakyat musiman yang viur menggeber produk busana impor bekas dan beberapa yang baru selain kebutuhan konsumen atau kuliner juga dari luar Bali.

Sementara itu pembelinya adalah mayoritas masyarakat di sekitarnya. Kenapa pada momen itu tak justru dimanfaatkan pedagang lokal untuk mengais rezeki, inilah fenomena yang membuat miris bagaimana uang masyarakat yang dibelanjakan dalam jumlah banyak pastinya akan dibawa keluar. Ini tentu bisa merongrong perekonomian, sehingga membangun dan mengembangkan mindset masyarakat untuk lebih mencintai produk daerahnya sendiri sangatlah vital untuk kesejahteraan mereka.

Di tempat terpisah, pebisnis busana adat seperti kebaya, safari, dan kain bawahan, Sri Astuti menyampaikan, kini kompetitor luar khususnya di bisnis busana sudah sangat lihai membidik peluang. Jangan salah, berbagai kain bawahan (kamben) jadi dan kebaya dari Jawa kini sudah merambah pasar di Bali. Harga jualnya juga kompetitif murah, sehingga bisa menjadi ancamam jika industri busana atau tekstil Bali tak inovatif.

“Produsen busana Bali baik dalam mode tradisional maupun adat harus terus didorong dalam produksi. Mereka membuat produk baru harus berorientasi kebutuhan pasar. Selain itu juga harus mengoptimalkan faktor produksi lokal yakni bahan baku, desainer, dan merek lokal dengan begitu kemandirian usaha dan ekonomi perlahan bisa berkembang,” katanya. (gun)