Tekan Kredit Bermasalah, Ini yang wajib Dilakukan BPR

Denpasar (Bisnis Bali) – Penyaluran kredit yang tidak tepat tujuan kerap kali memicu terjadinya kredit bermasalah atau non performing loan (NPL). Ketua DPD Perbarindo Bali, Ketut Wiratjana, Senin (7/1) mengatakan, bank perkreditan rakyat (BPR) wajib melakukan monitoring agar kredit yang disalurkan kepada debitur sesuai dengan peruntukannya.

Diungkapkannya, BPR wajib melakukan monitoring minimal sebulan sekali. Monitoring ini upaya BPR dalam pembenahan dari sisi kredit.

Direktur Utama BPR Indra Candra menjelaskan, melalui monitoring BPR bisa meyakinkan capacity debitur. “Melalui monitoring debitur BPR bisa memastikan apakah kredit yang disalurkan benar untuk mendukung usaha debitur,” katanya.

Dipaparkannya, kredit yang disalurkan harus sesuai dengan peruntukan. Jika keluar dari peruntukan, berpeluang menjadi kredit bermasalah. Kredit yang disalurkan ke debitur harus sesuai dengan tujuan awal. Untuk memastikan peruntukan kredit tepat sasaran BPR wajib melakukan tahapan monitoring.

Menurutnya, account officer (AO) menjadi ujung tombak BPR dalam melakukan monitoring debitur. AO dituntut memahami usaha yang dikelola debitur. Ini untuk memastikan kredit bermanfaat pengembangan usaha debitur. BPR bisa optimal menyalurkan kredit produktif ke sektor usaha.

Ditegaskannya, saat ini masih besar potensi berkembangan investasi bodong di masyarakat. AO dituntut pintar mengedukasi debitur sehingga debitur BPR tidak terjebak investasi bodong.

Wiratjana menambahkan, debitur diharapkan tidak terjebak iming bunga tinggi yang ditawarkan investasi bodong. Dengan begitu, kredit yang disalurkan ke debitur bisa tetap sesuai rel untuk pengembangan usaha. (kup)