Lawar Kambing, Pilihan Alternatif Pecinta Lawar

Denpasar (Bisnis Bali) – Bagi pecinta kuliner lokal seperti olahan lawar, tentu  mencari menu yang satu ini tidaklah sulit. Hampir di tiap daerah, kuliner lawar selalu ada, bahkan daging yang digunakan juga beragam dan tak hanya menggunakan daging babi.

Kombinasi olahan non babi digunakan tentu untuk mensiasati agar kuliner yang ditawarkan menjangkau semua lapisan masyarakat, meski yang ditawarkan adalah menu lokal. Mulai dari ayam, bebek, kuwir, kebo, sapi bahkan  kambing sekarang bisa diolah menjadi menu lokal.

Upaya ini juga merupakan salah satu wujud pengusaha kuliner kita untuk menjaga menu lokal tetap menjadi tuan rumah dan dicintai semua orang.

Salah satu kuliner lokal yang banyak dicari saat ini adalah olahan lawar kambing yang dijual di warung Lantang, yang beralamat di jalan Pulau Bungin no 65 banjar Geladag Pedungan Denpasar. Kalau biasanya olahan kambing  digunakan untuk sate atau gulai tapi dengan tangan kreatif AA Putu Adi Sukardika atau yang akrab di sapa Gung Lantang daging kambing ini bisa menjadi olahan lokal yang banyak di cari.

“Awalnya memilih olahan lawar kambing ini karena saya melihat pangsa pasarnya yang sangat menjanjikan sekali, apalagi sampai saat ini jarang orang yang mau membuat olahan daging kambing karena mengolahnya harus dengan teknik khusus, agar daging tidak berbau amis,” ungkap Gung Lantang.

Memulai usaha sejak 2017, tentu banuak kendala dan hambatan yang dihadapi, namun buat pria murah senyum ini semua bisa di pakai sebagai tantangan untuk lebih baik. “Bumbu yang kita pakai sama dengan olahan lawar lainnya yaitu bumbu Bali, hanya saja masing-masing daging punya kekhasan dan perlakuan berbeda sehingga hasilnya akan jadi kuliner yang enak,” ucapnya.

Satu porsi lawar kambing terdiri dari lawar kambing, serapah, kuah balung dan sate kambing, dijual dengan harga berkisar dari Rp25 ribu sampai Rp35 ribu. Dan dari awal buka usaha jumlah peminat olahan lokal berbahan kambing ini sangat positif. Jumlah peminatnya terus bertambah, hingga kadang Gung Lantang sampai kekurangan stok yang dijual tiap harinya.

“Respon positif masyarakat juga bisa dilihat dari jumlah kambing yang habis, untuk satu ekor kambing ukuran sedang habis dijual hanya dalam waktu dua hari. Ini tentu jumlah yang fantastis untuk kami pengusaha kuliner lokal, namun pada hari hari tertentu jumlah ini bisa kurang dan kita terpaksa tutup lebih awal. Apalagi sekarang kita juga melayani jasa antar dan on line, jadi semua pembeli kita layani artinya permintaan pun jadi makin banyak,” tambahnya.

Disinggung mengenai persaingan kuliner lokal saat ini, Gung Lantang meresponnya dengan positif. Banyaknya pengusaha yang menawarkan menu lokal dianggapnya sebagai wujud perkembangan dan kecintaan masyarakat kita dengan kuliner lokal dan bukan sebagai persaingan.

“Tidak jarang kami sesama pelaku usaha lokal saling mengunjungi dan berbagi tips pemasaran hingga pengolahan, jadi buat saya sah-sah saja orang buka usaha dan masing- masing sudah punya rejekinya,” nilainya tersenyum. (ita)