Awal Tahun, Realisasi Investasi Bali masih Terbatas

Mangupura (Bisnis Bali) – Sesuai historisnya, pada awal tahun realisasi investasi di Bali masih dalam jumlah yang terbatas. Tahapan pengadaan investasi baru dimulai pada awal tahun,  khususnya yang menggunakan APBD provinsi, kabupaten kota untuk belanja modal sehingga diperkirakan akan menahan kinerja investasi.

“Khususnya investasi yang dikelola oleh pemerintah,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali Causa Iman Karana saat dihubungi di Nusa Dua.

Ia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Bali triwulan I tahun ini diperkirakan tumbuh lambat dibandingkan triwulan IV 2018, yaitu dalam kisaran 6-6,40 persen. Dari sisi permintaan melambatnya kinerja ekonomi Bali tersebut diperkirakan akibat tertahannya kinerja komponen utama yang terkait dengan bidang usaha pariwisata yaitu ekspor luar negeri setelah tiga bulan sebelumnya tumbuh signifikan.

“Itu terutama didorong oleh pelaksanaan IMF-WB AM 2018 yang dihadiri lebih dari 36.000 orang peserta,” ujarnya.

Triwulan I 2019 dari sisi penawaran juga menunjukkan perlambatan. Kinerja ekonomi Bali diperkirakan melambat disebabkan oleh lima lapangan usaha utama ekonomi yaitu lapangan usaha penyediaan akomodasi makan dan minum, perdagangan besar dan eceran, transportasi dan pergudangan, industri pengolahan serta konstruksi.

Sementara dari sisi permintaan prospek perekonomian Bali pada triwulan 1 2019 juga diperkirakan tumbuh melambat disebabkan oleh melambatnya tiga komponen utama ekonomi. Pertama meliputi ekspor luar negeri. Kedua konsumsi rumah tangga dan ketiga investasi.

Menurutnya, beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perlambatan kinerja ekonomi Bali triwulan I 2019 adalah telah selesainya kegiatan IMF-WB AM 2018 yang dilaksanakan pada Oktober 2018 dihadiri lebih dari 14.000 orang peserta dari mancanegara menyebabkan aktivitas MICE dan kontribusi ekspor jasa serta komponen lain yang terkait dengan pariwisata pada triwulan I 2019 menjadi tertahan.

“Itu karena minimnya event yang menjadi stimulus pendorong, dibandingkan triwulan sebelumnya,” ujarnya.

Ia pun menilai telah berakhirnya periode season pariwisata di Bali berdasarkan periode historisnya dimulai pada triwulan II dan berakhir pada triwulan IV setiap tahun, berpotensi menahan kinerja ekspor jasa luar negeri.

Terkait potensi peningkatan harga untuk komoditas bumbu-bumbuan pada triwulan I 2019,  disebabkan oleh frekuensi dan curah hujan yang tinggi yang berpotensi menahan kinerja konsumsi rumah tangga. Diakui, berlanjutnya kenaikan policy rate Bank Indonesia dari 5,75 persen menjadi 6 persen berpotensi mendorong kenaikan suku bunga, termasuk suku bunga kredit sehingga berpotensi menahan kinerja investasi.

“Kinerja ekonomi Bali yang sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal,” ucapnya.

Sementara di sisi lain diperkirakan kondisi ekonomi global yang masih diliputi oleh hegemoni perang dagang dan proteksionisme khususnya oleh Amerika Serikat berpotensi menjadi faktor risiko terhadap ekspor barang luar negeri Bali sejalan dengan prakiraan perlambatan ekonomi Amerika Serikat pada 2019 yang juga diikuti oleh prakiraan melambatnya ekonomi Australia.

“Berdasarkan hasil survai dan liaison terus berkembang berkembang berbagai destinasi wisata di wilayah Asia  dengan tingkat harga yang bersaing berpotensi menahan kinerja ekonomi Bali pada triwulan 1 2019,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, adanya peningkatan promosi dan branding berbagai desain destinasi wisata dunia dari negara lain sering potensi terus meningkatnya kinerja pariwisata global menjadi faktor risiko yang dapat menekan kinerja ekspor jasa luar negeri Bali. (dik)