Cegah Kredit Bermasalah, Ini yang Harus Dilakukan BPR

Mangupura (Bisnis Bali) – Kredit bermasalah di bank perkreditan rakyat (BPR) sudah melampaui batas toleransi 5 persen. Oleh karena itu, BPR harus mencegah terjadi pembiaran dalam penanganan kredit bermasalah.

Ketua Yayasan Perbarindo Bali, Nyoman Sunarta, Jumat (4/1) mengatakan, BPR jika sering melakukan pembinaan terhadap debitur akan kebih mudah menangani kredit bermasalah. Kadangkala keterlambatan debitur membayar angsuran kredit tidak disikapi BPR.

Ia menjelaskan, pembiaran kasus debitur terlambat membayar angsuran kredit menjadi pemicu awal peningkatan kredit bermasalah. Kredit bermasalah yang meningkat harus disikapi dengan langkah-langkah penanganan kredit bermasalah (NPL).

Lebih lanjut dikatakannya, cadangan PPAP ketika BPR telah melakukan langkah penyelamatan agunan yang diambil alih (Ayda). Jaminan debitur yang sudah ditarik BPR ini akan melalui  proses lelang, atau diambil alih untuk dijual langsung oleh pihak bank.

Risiko penetapan Ayda BPR akan berpotensi kehilangan laba ketika jaminan tidak terjual selama setahun.

Sunarta menambahkan, ketika BPR berhasil menjual jaminan debitur maka hasil penjualan antara lain akan kembali menambah laba BPR. Ketelitian akan menghindari BPR dari kerugian akibat nilai jaminan lebih rendah dari nilai utang debitur. (kup)