ist

Denpasar (Bisnis Bali) – Untuk menekan kenaikan harga beras yang terjadi pada akhir dan awal tahun, Bulog Devisi Regional (Divre) Bali  menggelontor 5 ton cadangan beras pemerintah (CBP)  untuk keperluan operasi pasar (OP). Beras CBP tersebut terdiri atas beras medium dan premium.

Kepala Bulog Divre Bali Yosef Wijaya, saat ditemui,  Kamis (3/1) kemarin mengatakan, kenaikan harga beras yang terjadi Desember 2018 dikarenakan memang terjadi kelangkaan barang yang menyebabkan harga naik. Mengingat pada Desember lalu banyak hari raya seperti Natal, Galungan dan malam Tahun Baru yang memicu peningkatan konsumsi.

Namun kenaikan harga beras tidak signifikan terjadi, yaitu hanya 0,25 persen. Ke depan dengan adanya Kuningan dan Imlek serta peak season, prediksinya kenaikan konsumsi beras masih akan terjadi. Maka dari itu ia akan terus melakukan OP. “Kita akan melakukan intervensi pasar kalau ada harga yang meningkat. Kita langsung turun ke pasar, jadi kita juga berikan ke distributor dan mitra kerja Bulog,” terangnya.

Mengingat kenaikan harga terjadi di Denpasar, OP lebih banyak menyasar pasar di Denpasar yaitu ada 4 pasar, yakni Pasar Kereneng, Pasar Badung, Pasar Agung, dan Pasar Nyanggelan. Sementara di Singaraja ada dua pasar yang dilakukan operasi pasar yaitu Pasar Anyar dan Banyuasri. “Kalau Singaraja relatif stabil, yang paling signifikan di Denpasar,” ungkapnya.

Dikatakannya, 5 ton beras CBP tersebut sudah digelontorkan ke pasar. Namun stok beras Bulog saat ini 13.000 ton. Stok tersebut cukup untuk menjamin ketersediaan pasokan beras sampai 6 bulan ke depan. Jenis beras yang digelontorkan untuk OP yaitu  medium,  namun pihaknya juga menyediakan beras premium,  mengingat ketertarikan masyarakat lebih ke beras premium. (wid)