2019 merupakan tahun politik yang akan banyak memberikan pengaruh pada berbagai sisi kehidupan. Tak luput, industri otomotif baik roda dua maupun roda empat juga akan mendapat pengaruh dari pesta demokrasi. Para pebisnis otomotif pun bersiap-siap untuk menghadapi situasi yang bisa tak menentu di tahun ini. Bagaimana prediksinya tahun 2019?


KEPALA Cabang Auto 2000 Denpasar, Haris Prasetya memprediksi, pasar otomotif tahun ini akan stagnan. Hal ini dipicu perhelatan pileg dan pilpres 2019. “Dengan kondisi seperti ini, pasar akan cenderung menahan uangnya untuk berbelanja, khususnya otomotif. Pasar akan bergairah ketika pemenang pilpres sudah diketahui,” ujarnya.

Lanjutnya, tahun politik menjadi salah satu tantangan di 2019 ini. Menurutnya, banyak calon konsumen akan menahan atau menunda pembelian pada tahun politik. “Ibaratnya, kalau tahun politik itu menjadi tahun yang ‘panas’. Orang merasa nggak aman untuk bisnis dan transaksi (barang mahal). Pasti mereka menunda untuk pembelian mobil sampai kondisi kondusif,” terangnya.

Penjualan mobil pun dijamin akan stabil jika proses politik di Indonesia berjalan lancar. “Kayak pilkada serentak tahun lalu yang berjalan lancar, otomatis (calon) konsumen tidak menunda pembelian mobil,” katanya.

Meski bakal menghadapi tahun politik, penjualan mobil diprediksi tidak berbeda jauh dengan penjualan 2018, dengan rata-rata penjualan 400 unit per bulan, sehingga penjualan tahun ini ditargetkan 4.800 unit per tahun.

Kepala Koordinator Wilayah Daihatsu Bali, Eddy Susanto menilai, dengan adanya pesta politik tahun ini, bukan berarti menjadi tantangan untuk penjualan kendaraan roda empat.
Baginya, selama situasi keamanan masih tetap terkontrol, meski panasnya tahun politik, permintaan maupun penjualan mobil di Bali khususnya akan berjalan seperti biasa. Target Daihatsu Bali tidak berbeda dari tahun lalu.

Katanya, ada beberapa penyebab kondisi pasar lesu, di antaranya harga mobil naik mulai Januari, pajak progresif, biaya produksi, dan penurunan diskon. “Pada Desember lalu, kami berusaha keras melepas semua stok ke konsumen dengan diskon besar. Namun pada Januari, diskon mengecil sementara harga jual naik,” jelasnya. Konsumen juga diprediksi sedang sama-sama memilih bersikap melihat dan menunggu pada situasi saat ini.

Hadiyanto, salah seorang pebisnis mobil bekas di Denpasar menyatakan, penjualan mobil bekas pada awal tahun ini masih standar, atau dengan kata lain tidak terlalu terpengaruh dengan penurunan penjualan mobil baru. “Kecenderungan konsumen sekarang memilih wait and see. Situasinya memang sedang berat, jadi orang pilih untuk menahan lebih dulu. Tetapi sebenarnya penjualan mobil bekas itu masih stabil,” jelasnya.

Kebanyakan dari mereka membeli mobil baru itu tergantung besarnya uang muka dan cicilan. Makin murah uang mukanya, makin tinggi penjualan.
Perang diskon yang kadang diumbar para produsen mobil juga tidak terlalu berpengaruh pada penjualan mobil bekas. Konsumen dalam membeli barang sudah disesuaikan dengan kebutuhan serta dana yang mereka miliki.

“Kami akui, tahun politik itu tahun yang panas. Konsumen merasa tidak aman untuk bisnis dan transaksi, pasti mereka menunda untuk pembelian mobil sampai kondisi kondusif,” ucapnya. Pihaknya berharap pesta demokrasi tahun ini akan berjalan lancar sehingga bisa membuat penjualan mobil bekas di angka yang cukup stabil.

Wakil Presiden III Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Hari Budianto mengungkapkan, penjualan motor tahun ini diramal akan tetap stabil seperti 2018.
“Yang terpenting harga komoditas terjaga, pertumbuhan ekonomi stabil sama seperti 2018. Kami juga sudah pertimbangkan fluktuasi tekanan dolar terhadap rupiah. Maka kami forecast 2019, pasar (motor) flat di angka 6,2-6,3 juta unit,” ujar Hari.

Sementara itu, disinggung mengenai pilpres yang bakal diselenggarakan April 2019 nanti, Hari tidak mau menanggapi implikasinya terhadap penjualan motor nasional.  “Soal pemilu, AISI tidak berkomentar, karena semua juga akan menghadapi hal yang sama,” terang Hari.

Sementara untuk model motor yang akan dikembangkan, menurut Hari jenis skutik tetap akan menjadi pemain utama pada 2019. “Trennya tetap di tipe scooter. Dengan tren kapasitas mesin, sekitar 50 persen untuk kapasitas 125 cc,” tandasnya.  (aya)