Inflasi Denpasar dan Singaraja Tahun Lalu Timpang

Denpasar (Bisnis Bali) – Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat pencapaian inflasi Denpasar dan Singaraja selama 2018 menunjukkan ketimpangan yang signifikan. Uniknya, meski mengalami peningkatan, pencapaian inflasi di dua daerah tersebut masih berada di bawah target nasional yang dipatok 3,50 pada periode yang sama.

“Tahun ini inflasi di dua daerah (Denpasar dan Singaraja) yang jadi pemantau BPS Bali sangat kontras. Betapa tidak, 2018 inflasi Denpasar mencapai 3,40 persen, sedangkan inflasi Singaraja hanya mencapai 1,88 persen,” tutur Kepala BPS Bali, Adi Nugroho, di Denpasar, Rabu (2/1) kemarin.

Terangnya, dari pencapaian inflasi di dua daerah tersebut menginsyaratkan bahwa ada pola konsumsi yang agak nyata berbeda antara Denpasar dan Singaraja, meski begitu di balik perbedaan pola konsumsi tersebut ternyata sumber penyebab inflasi menunjukkan pola yang sama, yakni tahun lalu di Bali sumber inflasi yang menonjol berasal dari barang atau komponen bergejolak (volatile) yakni barang yang dikonsumsi sehari-hari.

“Sedangkan andil inflasi disebabkan oleh naiknya komponen harga yang diatur pemerintah atau administered, menunjukkan andilnya sangat sedikit terhadap pencapaian inflasi 2018 lalu,” ujarnya.

Jelas Adi, pencapaian inflasi khusus pada Desember 2018 lalu untuk Denpasar menunjukkan mengalami inflasi mencapai 0,77 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) mencapai 131,50. Paparnya, lima kelompok pengeluaran tercatat mengalami inflasi, yakni bahan makanan mencapai 2,69 persen, disusul kelompok tranpor, komunikasi, dan jasa keuangan mencapai 1,05 persen. Periode yang sama, sumbangan inflasi juga diperoleh dari kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mencapai 0,28 persen, kelompok kesehatan 0,19 persen, serta kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga mencapai 0,02 persen.

“Periode yang sama, hanya kelompok sandang yang mengalami deflasi 0,61 persen, dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau yang mengalami deflasi 0,01 persen,” ujarnya.

Sementara itu, dari 82 kota IHK, tercatat 80 kota mengalami iinflasi dan 2 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi tercatat terjadi di Kupang (Nusa Tenggara Timur) mencapai 2,09 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Banda Aceh mencapai 0,02 persen. Deflasi terdalam tercatat terjadi di Sorong (Papua Barat) mencapai 0,15 persen dan terdangkal terjadi di Kendari (Sulawesi Utara) 0,09 persen.

“Secara nasional dari inflasi tertinggi, Denpasar menduduki urutan ke-28 dari 80 kota yang mengalami deflasi pada periode tersebut,” tandasnya. (man)