Olahan Buah Buni Kaya Manfaat

BUAH buni selama ini diketahui masyarakat Bali, hanya bisa dimanfaatkan untuk membuat  rujak. Buah buni sesungguhnya bisa diolah menjadi berbagai macam olahan pangan seperti sirup dan juga dodol.

Meski buah buni bentuknya kecil, kaya manfaat karena kandungan gizi dan fitonutrienya yang tinggi. Buah buni mengandung vitamin C, provitamin A, vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin E, zat besi, fosfor, photasium/kalium dan serat.

Ahli gizi, Eny Sulistya Dewi mengatakan, buni baik untuk menjaga kesehatan mata karena memang kandungan vitamin A-nya, buni juga dapat melancarkan saluran pencernaan dan mencegah konstipasi.

Kandungan vitamin C-nya yang tinggi dapat berfungsi sebagai antioksidan pencegah kanker dan penuaan dini. Vitamin C juga meningkatkan daya tahan tubuh. Buah ini juga kaya serat yang dapat menjaga kesehatan saluran pencernaan serta mencegah terjadinya kanker kolon.

“Buah yang selama ini hanya dikenal untuk rujak, ternyata juga berkhasiat untuk penyembuhan jantung berdebar, kurang darah dan darah tinggi,” terangnya Senin (17/12) kemarin, di Denpasar.

Untuk membuat sirup buni caranya cukup mudah. Siapkan satu mangkuk buah buni bersihkan dari tangkainya dan cuci bersih, kemudian 500 gram gula pasir dan 1 liter air. “Cara membuat blender buah buni bersama segelas air, masukkan dalam panci, tambahkan gula pasir dan air 1 liter. Masak hingga mendidih, setelah mendidih matikan api dan diamkan hingga dingin,” paparnya. Setelah dingin, saring lalu masukkan dalam botol dan simpan dalam lemari es agar lebih awet. Sirup buni sangat segar diminum saat cuaca panas dicampur es. Cita rasa yang asam manis mampu menggugah selera.

“Dengan diolah menjadi sirup, buah buni dapat dinikmati oleh anak-anak. Selama ini bumi hanya dinikmati oleh orang dewasa yang menyukai rujak,” tuturnya.

Bila buni dikembangkan menjadi industri rumahan akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat desa. Selain itu bisa menjadi salah satu oleh-oleh khas Bali. “Kalau ini bisa dikembangkan, maka kita dapat sekaligus melestarikan tanaman buni yang hampir punah,” punggung. (pur)