Sambut Kampanye, Pengusaha Kaos Kecipratan Untung

Denpasar (Bisnis Bali) – Menyambut masa kampanye pemilihan umum (pemilu) 2019, berbagai persiapan telah dilakukan para calon legislatif (caleg), termasuk dalam mempersiapkan  atribut seperti spanduk, baliho, hingga baju kaos.  Hal ini pun memberikan peluang bagi pengusaha terkait, salah satunya pengusaha konveksi.

Salah soerang pengusaha konveksi di Denpasar, IGN Erlangga Baru RP, saat ditemui di tokonya, di Jalan Gatsu Timur, Denpasar, Selasa (11/12) kemarin mengatakan, dirinya telah menerima 3.000 pcs kaos untuk keperluan kampanye para caleg. Pesanan sudah mulai diterima sejak September lalu. “Astungkara peluang pemesanan masih ada ke depan,” ungkapnya.

Diakuinya, jenis kaos yang diminta untuk keperluan kampanye ada beberapa macam, seperti kualitas unggul, kualitas midle (menengah) yang bisanya berbahan katun dan kualitas paling murah yang berbahan TC. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp30.000 per pcs. Namun ada pula yang hingga menyentuh harga Rp150.000 per pcs khususnya untuk jenis kemeja.

Dikatakannya, pesanan kaos untuk kampanye sudah sering didapatkannya. Pesanan tidak hanya untuk pemilu mendatang, namun juga beberapa pemilihan kepala daerah (pilkada) sebelumnya. “Permintaan lumayan dan masih berlanjut hingga saat ini,” ungkapnya.

Erlangga mengakui, meski produksi luar Bali lebih murah, namun banyak risiko yang terjadi serta pengerjaan cukup lama, sehingga dia pun memilih memproduksi di Bali. Diakuinya, produksi luar Bali pernah dilakukan sebelumnya, namun banyak kerugian dialami, mulai dari standar bahan yang digunakan berbeda dan sulitnya mengontrol pengerjaan. Demikian juga untuk bahan dia langsung mensuplai dari toko-toko kain yang ada di Bali, untuk mengetahui secara langsung kualitas bahan baku.

Disinggung soal keuntungan yang didapat, dia mengatakan untuk produksi kaos kampanye keuntungan tidak terlalu besar.  Kurang dari 10 persen.  Namun karena pemesanan cukup banyak,  keuntungan bisa dirasakan.  Untuk meminimalisasi kerugian,  dia pun memberlakukan sistem bayar uang muka. “Karena sebelumnya pernah tertipu, ada pembeli yang memesan dan setelah barangnya diambil malah tidak kunjung datang lagi,” imbuhnya. (wid)