Denpasar (Bisnis Bali) – Kondisi perekonomian yang masih lesu menyebabkan proyek bangunan juga menjadi sepi, khususnya proyek pribadi, terjadi penurunan yang cukup signifikan. Begitu juga proyek pemerintah juga turun walaupun tidak seperti proyek perorangan. Namun demikian, kondisi di masing-masing toko bahan bangunan, terkait harga bahan bahan bangunan masih tetap stabil. Hanya saja penjualannya terjadi penurunan.

Seperti pengakuan salah seorang pemilik toko bahan bangunan, Juli, yang ada di seputaran Kota Denpasar, Selasa (11/12), dari beberapa tahun belakangan ini, penjualannya terus menurun. Katanya, dampak kelesuan ekononi sangat terasa, akibat terjadinya penurunan jumlah proyek di lapangan, baik proyek perorangan atau pribadi maupun proyek pemerintah.

”Yang turun drastis adalah pembangunan proyek perorangan. Kebanyakan dari mereka yang sudah memiliki rencana membangun, akibat ekonomi lesu mendadak melakukan penundaan. Kami ada beberapa orang yang datang sebelum pembangunan dimulai untuk kerja sama penyedia bahan bangunan,’’ katanya. Ternyata, lanjutnya, akibat ekonomi terus lesu akhirnya mereka menunda kerjasama tersebut sampai sekarang.

Sementara, dilihat dari data penjualan di tokonya juga terjadi penurunan, sedangkan harga bahan bangunan masih stabil. Misalnya, yang paling laku adalah jenis semen. Harga masih normal, yakni jenis semen Gresik yang isinya 40 kg satu zaknya dijual Rp 51 ribu. Semen merek Tiga Roda isi 40 kg harganya Rp 50 ribu dan semen Tonasa isi 40 kg dijual Rp 48 ribu.

Hal senada dikatakan pemilik toko bangunan lainnya, Murtiningsih. Sampai sekarang, katanya, penjualan belum normal seperti beberapa tahun sebelumnya. ‘’Ekonomi saat itu masih bertumbuh bagus,’’ katanya. Sebagai penyedia material bahan bangunan, pihaknya tergantung dari jumlah orang yang membangun. Karena ekonomi lesu secara otomatis daya beli masyarakat juga turun. ‘’Kalau pembangunan turun secara otomatis penjualan material bahan bangunan juga menurun,’’ jelasnya.

Apalagi persaingan sangat ketat, sedangkan pembangunan proyek menurun, pihaknya yakin semua penjualan akan menurun. ‘’Kalau harga memang masih stabil dari beberapa waktu lalu,’’ jelasnya. Seperti jenis besi yang paling laku ukuran 6 mm per lonjor dijual Rp 25 ribu, sedangkan yang 8 mm per lonjor di jual Rp 46 ribu. ‘’Jenis seng gelombang 0,20 mm harga jualnya Rp 47 ribu per lembar,” ujar Murtiningsih sambil berharap ekonomi cepat normal sehingga pembangunan di masyarakat terjadi peningkatan. (sta)