Lonjakan Harga Emas Sumbang Inflasi di Denpasar

Denpasar (Bisnis Bali) – Lonjakan harga emas beberapa hari terakhir ikut berkontribusi pada inflasi di Denpasar yang mencapai 0,34 pada November 2018. Emas yang masuk dalam enam kelompok pengeluaran tercatat mengalami inflasi, yakni dalam kelompok sandang menyumbang 0,74 persen sekaligus memberi andil terbesar pada pencapaian inflasi pada periode November 2018.

Kepala BPS Bali, Adi Nugroho di Denpasar, Selasa (11/12) kemarin mengungkapkan, tingkat inflasi tahun kalender (Januari-November 2018) untuk Denpasar tercatat 2,61 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (November 2018 terhadap November 2017 atau YoY) tercatat 3,71 persen. Terangnya, November lalu hampir semua kelompok pengeluaran tercatat mengalami inflasi. Kelompok sandang 0,74 persen, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,68 persen, kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,44 persen, kelompok bahan makanan 0,43 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,27 persen, serta kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,19 persen.

“November lalu hanya satu kelompok pengeluaran tercatat mengalami deflasi, yakni kesehatan mencapai 0,32 persen,” tuturnya.

Jelas Adi, khusus pada kelompok sandang yang memberi kontribusi terbesar untuk pencapaian inflasi di Denpasar pada November 2018. Dari empat subkelompok yang termasuk pada kelompok tersebut, seluruh subkelompok tercatat mengalami peningkatan indeks atau mengalami inflasi. Subkelompok sandang laki-laki 1,19 persen, subkelompok barang pribadi dan sandang lain 1,07 persen, subkelompok sandang wanita 0,34 persen, serta subkelompok sandang anak-anak 0,33 persen.

“Komoditas utama yang tercatat memberikan sumbangan inflasi antara lain emas perhiasan mencapai 0,0138 persen, celana panjang katun sebesar 0,0061 persen, seragam sekolah anak 0,0046 persen, serta popok bayi 0,0033 persen,” paparnya.

Sementara itu, perbandingan inflasi tahunan laju inflasi tahun kalender Januari-November 2018 tercatat 2,61 persen dan inflasi tahun ke tahun (November 2018 terhadap November 2017 atau YoY) 2018 tercatat 3,71 persen. Di sisi lalin tingkat inflasi tahun kalender pada November 2016 dan November 2017 masing-masing tercatat 2,24 persen dan 2,21 persen, sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun  November 2016 dan November 2017 masing-masing tercatat 3,21 persen dan 2,91 persen.

Dari 82 kota IHK, tercatat 70 kota mengalami inflasi dan 12 kota mengalami deflasi pada November 2018. Inflasi tertinggi tercatat di Merauke (Papua) 2,05 persen sedangkan inflasi terendah tercatat di Balikpapan (Kalimantan Timur) 0,01 persen. Deflasi terdalam tercatat di Medan (Sumatera Utara) 0,64 persen dan terdangkal di Pangkal Pinang (Bangka Belitung) dan Pematang Siantar (Sumatera Utara) masing-masing 0,01 persen.

“Jika diurutkan dari inflasi tertinggi, Denpasar menempati urutan ke-33 dari 70 kota yang mengalami inflasi pada periode tersebut,” tandasnya. (man)