Hindari Kendala Pinjaman, Debitur Diminta Siapkan Kelengkapan Teknis Ekspor

Denpasar (Bisnis Bali) – Bank tak memungkiri bila pelaku usaha maupun debitur masih banyak yang menghadapi kendala dalam mengajukan pinjaman atau kredit terkait kegiatan ekspor. Karenanya, bank mengimbau kepada debitur dengan kegiatan usaha skala ekspor bisa melengkapi diri teknis dokumen ekspor terlebih dahulu sebelum mengajukan kredit.

“Selama ini kendala debitur dalam melakukan ekspor adalah masalah teknis dokumen ekspor impor yang belum banyak dipahami oleh eksportir,” kata Pemimpin BNI Kantor Wilayah Bali NTB & NTT Eko Setyo Nugroho di Sanur, Selasa (11/12) kemarin.

Untuk memudahkan debitur tersebut, diakui, bank BUMN ini akan memfasilitasi dengan melibatkan tim advisory yang berfungsi memberikan penjelasan kepada debitur cara membuat form aplikasi. Harapannya bank bisa memfasilitasi eksportir di Bali yang membutuhkan dana untuk kegiatan ekspor dari perbankan.

“Harapan kita jumlah produk yang diekspor pun akan makin banyak, apalagi bank kini fokus memberikan bantuan pada UMKM yang berorientasi ekspor,” ujarnya.

Bank fokus ke ekspor karena pihaknya memiliki jaringan kantor di luar negeri terbanyak, termasuk memiliki award best trade finance selama bertahun-tahun. Sepanjang 2018, eksportir Bali yang sudah difasilitasi ada 100 debitur. Tujuan ekspor mereka terbanyak ke Amerika Serikat, Eropa, Jepang.

“Dengan adanya kemudahan mendapatkan pinjaman untuk ekspor tersebut, kami sekaligus mendukung program pemerintah untuk menggenjot ekspor pada 2019,” ucapnya.

DGM Bisnis Kecil 1 PT BNI (Persero) Tbk. Arif Surarso mengatakan hal serupa. Bank akan serius menggarap penyaluran kredit ekspor pada 2019 dengan target penyaluran kredit ekspor Rp1 triliun. Dari total penyaluran kredit BNI Rp 4,5 triliun pada, Rp 1 triliun di antaranya diupayakan untuk kredit ekspor. Program ini menyasar UMKM saja.

“Targetnya cukup besar karena kredit ekspor akan menjadi salah satu program unggulan kita,” ungkapnya.

Program kredit ekspor ini diberikan khususnya untuk pelaku UMKM yang memiliki produk orientasi ekspor. Debitur berpeluang memperoleh pinjaman maksimal Rp15 miliar,” jelasnya.

Bank pun diakui akan mengemas program ini dengan menarik. Salah satunya dengan memberikan bunga murah atau negosiasi. Dengan program ini, eksportir bisa melakukan negosiasi.

Ia pun tidak memungkiri tren suku bunga BNI cenderung meningkat dan cukup mahal yaitu 12,5 persen.

“Dengan suku bunga pinjaman negosiasi ekpsortir bisa memperoleh bunga di bawah itu,” ungkapnya.

Debitur eksportir BNI saat ini mencapai 185 nasabah pada 2018 dan pada 2019 target nasabah bisa sebanyak-banyaknya.

Terkait rasio kredit bermasalah, diakui, penyaluran kredit terutama kredit ekspor selalu ada risiko, maka BNI berupaya meminimalisir risiko lewat transaksi letter of credit (LC) dan non-LC yang dikemas sedemikian rupa untuk meminimalisir risiko transaksi ekspor.

Untuk meminimalisir risiko, bank juga memiliki fasilitias hedging untuk meminimalisir risiko volatilitas kurs. Upaya menggenjot ekspor ini dilakukan untuk mendukung program pemerintah menghasilkan devisa. (dik)