Desa Wisata Baha Integrasikan Pertanian dan Pariwisata

Mangupura (Bisnis Bali) – Desa Baha adalah desa wisata pertama kali diperkenalkan oleh Pemkab Badung pada tahun 1992. Pencanangan desa wisata di Desa Baha yang terletak di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, dinilai cukup bagus oleh Dr. Ir. I Ketut Sumantra, M.P., Direktur Pascasarjana  Universitas Mahasraswati Denpasar, mengingat potensi Desa Baha secara historis, sosiologis, dan geografis cukup mendukung.

Pengembangan desa wisata bertujuan untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam mengembangkan kepariwisataan sehingga masyarakat dengan kebudayaannya mampu menjadi alat untuk peningkatan kesejahteraan maupun pelestarian nilai-nilai budaya serta adat setempat. “Berkunjung ke Desa Wisata Baha, wisatawan akan disuguhkan keasrian wilayah desa yang didukung oleh budaya pertaniannya. Wisatawan bisa menikmati trekking di sepanjang Subak Lepud, wisata spiritual di Pura Beji dan wisata sejarah di goa Jepang,” katanya, Minggu (9/12) di Desa Baha, Mengwi.

Keseriusan pengembangan Desa Baha menjadi desa  wisata dimulai dengan membangun angkul-angkul rumah (gerbang tradisional) sebanyak 350 unit. Ditambah dengan penataan kolam/taman desa yang terletak di selatan desa serta peningkatan infrastruktur lainnya. “Organisasi pertanian subak di Desa Baha yang bernama Subak Lepud menjadi ujung tombak dalam menyukseskan program ini. Seiring perjalanan waktu Desa Baha menunjukkan laju perkembangan kepariwisataan yang lambat, sebagai upaya mendorong perkembangan Desa Baha untuk mencapai tujuan sebuah desa wisata, melaui program kemitraan wilayah yang bekerja sama dengan Universitas Mahasaraswati Denpasar, Pemkab Badung dan tokoh-tokoh masyarakat di Desa Baha untuk melakukan beberapa upaya  revitalisasi  program  dengan menyasar Subak Lepud sebagai atraksi dan pengembangan fasilitas pendukungnya,” ungkapnya.

Selain dapat digunakan untuk melakukan kegiatan persawahan juga dapat melakukan wisata trekking mengelilingi areal persawahan. Kondisi jalur trekking telah ditata oleh masyarakat yaitu dengan pengerasan jalur menggunakan paving blok.  Untuk melengkapi jalur trekking dibangun  rest area dan kolam pancing, selain itu juga disiapkan fasilitas pendukung lainnya seperti 10 unit sunari, 10 unit baling-baling (pindekan– red), pemeliharaan  ikan di sepanjang jalur irigasi  yang digarap bersama dalam program kemitraan wilayah yang diketuai oleh Dr. Ir. I Ketut Sumantra, M.P.

“Jalur trekking tersebut juga dimanfaatkan masyarakat sebagai akses mobilisasi pupuk, hasil panen dan peralatan pertanian. Panjangnya jalur trekking lebih dari 2 km serta banyaknya percabangan yang ada pada jalur trekking sehingga membutuhkan penanda atau papan informasi,” papar Sumantra.

Daya tarik wisata lainnya di Desa Baha yaitu Goa Jepang. Goa tersebut merupakan salah satu peninggalan sejarah perjuangan masyarakat Desa Baha dalam melawan penjajah. Goa itu dibangun sebagai tempat perlindungan para pejuang Indonesia di Desa Baha. “Goa Jepang memiliki keunikan tersendiri, di mana letaknya berada pada dinding sungai yang memiliki terjunan air. Goa ini memiliki satu lubang yang dilengkapi dengan lubang sirkulasi udara,” ungkapnya.

Di sekitar area Goa Jepang dapat dijumpai sebuah Pura Beji. Air dari beji tersebut umumnya dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber air suci untuk keperluan upacara. Atas inisiatif warga Desa Baha, keberadaan Pura Beji ini diusulkan untuk dapat ditata menjadi sebuah objek wisata spiritual melalui konsep kolam pengelukatan.

Selain daya tarik wisata tadi, Desa Wisata Baha juga memiliki daya tarik wisata budaya berupa atraksi mapeed gebogan (salah satu upacara agama Hindu dengan berjalan secara bersamaan dan saling beriringan menuju ke pura). Kegiatan ini dilaksanakan secara berkala setiap dua bulan sekali.

“Keunggulan lainnya adalah jalur masuk menuju Desa Wisata Baha sangatlah strategis karena lokasi Desa Baha terletak di antara beberapa daerah tujuan wisata lainnya seperti jalur wisata Taman Ayun dan Bedugul, antara desatinasi wisata taman ayun dengan Ubud dan antara destinasi Taman Ayun dengan destinasi wisata Sangeh,” katanya. (pur)