Kredit BPR di Bali Tumbuh Tapi melambat

Gianyar (Bisnis Bali)– Kredit bank perkreditan rakyat (BPR) di  Bali 2018 mengalami pertumbuhan. Ketua DPK Perbarindo Gianyar, Made Suarja Jumat (7/12) mengatakan pertumbuhan kredit BPR sedikit melambat akibat melemahnya ekonomi secara global.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wilayah VIII Bali Nusra jumlah penyaluran kredit BPR 2018 hingga September mencapai Rp10,12 Triliun. Ini dengan peningkatan sebesar 6,66 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 8,73 persen (yoy).

Direktur BPR Udary ini menjelaskan, dalam kondisi ekonomi melambat BPR tersebut tentu berisiko dalam penyaluran kredit. Mengantisipasi risiko tersebut BPR sangat berhati-hati dalam penyaluran kredit.

Sebelumnya BPR membiayai seluruh kebutuhan kredit nasabah. Selama ini diantara nasabah BPR antara lain debitur spekulan dari sektor properti. Akibat perlambatan ekonomi, sektor properti yang paling banyak terkena imbasnya. Debitur spekulan di sektor properti ini banyak tidak mampu membayar angsuran kredit

Made Suarja meyakinkan 2018 BPR betul-betul selektif menyalurkan kredit. Para spekulan ini tak lagi dibiayai BPR. Kredit hanya diberikan BPR kepada debitur yang benar-benar membutuhkan dan bukan untuk kepentingan spekulasi.

Ketua DPD Perbarindo Bali, Ketut Wiratjana mengatakan ekonomi dan bisnis BPR memang sedikit melambat. Ini mendorong pertumbuhan kredit BPR 2018 turun dibandingkan pertumbuhan kredit BPR 2017 sebelumnya.

Ia membenarkan jumlah penyaluran kredit BPR tercatat sebesar Rp10,12 Triliun dengan peningkatan sebesar 6,66 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 8,73 persen (yoy).

Secara komposisi, penyaluran kredit BPR di Bali didominasi oleh kredit produktif sebesar 63,32 persen (Rp 6,41 Triliun), yang terdiri dari Kredit Modal Kerja 48,71 persen (Rp4,93 triliun) dan kredit investasi 14,61 persen (Rp1,48 triliun).

Ketut Wiratjana menambahkan dana pihak ketiga (DPK) BPR di Bali tercatat sebesar Rp10,44 Triliun dengan tingkat pertumbuhan sebesar 13,03 persen. Ini menunjukkan kepercatyaan mayarakat menempatkan dana di BPR cukup tinggi." BPR  tinggal mengoptimalkan penyaluran kredit, sehingga fungsi intermediasi BPR berjalan optimal," ucap Wirtjana. (kup)