Produk UMKM Karangasem belum Ada Diekspor

Amlapura (Bisnis Bali) – Usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) di Karangasem seperti perajin anyaman atau tenun, jumlahnya banyak. Perajin mencapai belasan ribu. Namun, hingga kini belum mampu meningkatkan nilai tambah melalui pemasaran ke luar negeri atau ekspor.

Hal itu diakui Kepala Dinas Koperasi dan UKM Karangasem, Ir. Gede Ngurah Yudiantara, beberapa hari lalu di Karangasem. Yudiantara mengatakan, di Karangasem banyak perajin patung, seperti patung asmat bahkan patung dari batu hitam atau batu tabas.

Patung asmat cuma diproduksi di Karangasem, sementara fisnishing-nya di wilayah Gianyar. Pada akhirnya, brand patung asmat itu Gianyar, bukan Karangasem. Karena finishingnya di Gianyar, diekspor melalui Gianyar, nilai tambahnya pun lebih banyak dinikmati eksportir, yang memeasn patung itu di Gianyar.

Patung dari batu, katanya, lebih banyak dipasarkan untuk lokal, seperti untuk sanggah atau bahan bangunan dari batu andesit dari galian C di Karangasem. Menurut Yudiantara, kalangan UMKM di Karangasem juga sudah mampu menghasilkan minyak VCO, penganan atau kue-kue seperti pie dari menanga atau rendang, juga ada produksi kopi salak, wine salak, namun belum sampai ekspor, karena kalangan UMKM belum mampu berproduksi sesuai kualitas yang diinginkan konsumen di luar negeri.

Jalur ekspor juga belum dipahami. Karena itu, pihaknya terus mendorong kalangan perajin atau UMKM di Karangasem terus mencari ilmu, dan memperluas jaringan melalui pameran-pameran baik di Bali maupun ke luar Bali.

‘’Kalau kita sudah mampu menembus pasar ekspor, dan banyak produk kita bisa diekspor, tentunya nilai tambah produsen atau perajin akan makin tinggi. Negara kita juga untung, karena mendapatkan devisa. Kami juga tentunya mendorong agar perajin mendaftarkan Haki-nya,’’ tambahnya. (bud)