Jelang  Galungan, Pengguna Jasa Tukang Jahit Turun 50 Persen

Denpasar (Bisnis Bali) – Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, wanita Hindu biasanya beramai-ramai menjahit kebaya agar tampil beda saat hari raya. Namun Galungan kali ini,  penggunaan jasa tukang jahit sangat sepi, order dikatakan menurun hingga 50 persen.

Penurunan omzet saat Galungan kali ini disampaikan Ni Ketut Sujianingsih, penjahit dibilangan Jalan Buana Kubu, Monang Maning Denpasar.  “Orderan jahitan kebaya untuk Hari Raya Galungan sekarang turun, dibandingkan Galungan enam bulan lalu. Mungkin karena sekarang banyak yang menjual  kebaya jadi,” ungkap Sujiani, Selasa (4/12) di Denpasar.

Dikatakan, biasanya menjelang Galungan bisa dua bulan sebelumnya orderan sudah ramai. Bahkan, satu pelanggan bisa menjahit lebih dari satu kebaya. “Kalau dulu saya sampai menolak banyak pelanggan saking banyaknya permintaan. Sekarang saya kerjanya lebih santai karena orderan sepi,” tuturnya.

Ditambahkannya dari tahun ke tahun orderan semakin menurun.  “Mungkin karena ekonomi lagi lesu ya, pelanggan menekan pengeluaran untuk kebaya baru. Terlebih lagi sekarang banyak yang menjual kebaya jadi, dengan harga sangat murah,” tukasnya. Hampir tiap saat, para penjual busana adat meluncurkan tren baru kebaya, jadi dengan harga yang sangat miring.

“Tapi kalau pelanggan yang mementingkan kualitas, pasti tetap menjahit ke saya karena kebaya jadi dari segi kualitas jahitan pasti tidak terlalu bagus. Selain itu, dari segi bahan juga pasti menggunakan bahan yang harganya lebih murah, sehingga dapat dijual dengan harga yang sangat terjangkau,” tukasnya.

Makanya pelanggan tetap yang merupakan pencinta kebaya masih setia untuk menjahit ke tukang jahit. Dikatakan, karena kebaya jadi yang dibeli biasanya tidak sesuai dengan ukuran badan, sehingga pelanggan ingin tetap menjahit sesuai keinginan.

Dari segi model kebaya, menjahit sendiri di tukang jahit, maka akan berbeda dengan milik orang lain.  Selain itu, dari segi ukuran juga tentunya akan lebih pas di badan daripada membeli kebaya jadi, yang kadang terlalu longgar atau terlalu sempit.

“Saya juga merasa sangat terbantu adanya kebijakan yang dibuat Gubernur Bali, mewajibkan karyawan dan pelajar memakai pakaian adat tiap hari kamis. Agar tidak bosan karena akan sering dipakai, pelanggan yang menjahit, biasanya membawa kain lebih dari satu warna kebaya,” ungkapnya.

Untuk model kebaya,  Sujiani mengatakan, masih seperti tahun sebelumnya, dominan pelanggan meminta kebaya model kartini lengan panjang. Tidak hanya untuk busana ke Pura, model Kartini juga masih diminati untuk dipakai karyawan maupun siswi sekolah.

Terkait ongkos jahit, ia mengaku, tidak berani mematok harga tinggi, karena pelanggan sudah menurun. Meski demikian, diakui, ada kenaikan tarif dari Rp 55 ribu menjadi Rp 60 ribu per pcs. Hal tersebut dilakukan untuk mempertahankan pelanggan ditengah ketatnya persaingan. (pur)