ABIF jadi Tantangan Perbankan pada MEA 2020

Mangupura (Bisnis Bali) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai tantangan yang dihadapi perbankan di kawasan ASEAN termasuk Indonesia adalah rencana pembentukan ASEAN Banking Integration Framework (ABIF).

”ABIF adalah salah satu langkah konkret menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA),” kata Kepala OJK Regional 8 Bali Nusa Tenggara, Hizbullah di Kuta, Selasa (4/12).

Ia mengatakan, kesepakatan pembentukan MEA membawa dampak tersendiri, seperti aliran bebas barang bagi negara-negara ASEAN, dampak arus bebas jasa, arus bebas investasi, arus tenaga kerja terampil dan arus bebas modal. MEA menyentuh seluruh lapisan perindustrian tak terkecuali industri perbankan.

“Untuk itu dalam rangka menghadapi MEA di sektor perbankan yang berlaku pada 2020 tersebut, kita harus segera melakukan pembenahan diri secara berkelanjutan dan menyeluruh, sehingga dalam kurun waktu 2 tahun ke depan kita akan telah memiliki daya saing tinggi dalam menghadapi pihak asing,” katanya.

Di samping itu, makin berkembangnya teknologi digital telah membawa ke era revolusi industri 4.0. Di industri perbankan, era revolusi industri 4.0 ini ditandai dengan kemunculan tren digital banking. Di era digital banking, perbankan dituntut meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam berbagai hal dengan banyak melibatkan aspek teknologi modern.

“Tentunya, dengan kecepatan, jaringan dan kemudahan dalam menarik simpanan atau menyalurkan pinjaman, telah menjadi daya tarik pasar dalam memanfaatkan produk di industri keuangan,” katanya.

Hal ini mendorong bermunculannya financial technology startup sebagai vertikal bisnis baru di industri keuangan. Berdasarkan data total jumlah penyelenggara fintech peer to peer lending yang terdaftar dan berizin sampai dengan Oktober 2018 mencapai 73 perusahaan. Kondisi ini perlu diakui perlu disikapi sebagai dorongan positif untuk segera berinovasi dan berkolaborasi dalam menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin dinamis.

Hizbullah menerangkan, secara umum kinerja perbankan Bali hingga September 2018 masih tumbuh positif, namun mengalami perlambatan, tercermin dari total aset perbankan mencapai Rp 130,44 triliun dengan pertumbuhan mencapai 6,75 persen (yoy), atau lebih lambat dibandingkan periode tahun sebelumnya (September 2017) yang tumbuh 10,26 persen (yoy). Hal ini terutama disebabkan pertumbuhan ekonomi yang belum sepenuhnya stabil dan proses konsolidasi perbankan masih berlanjut akibat beberapa faktor eksternal seperti bencana alam Gunung Agung dan gempa bumi. (dik)