Pengangguran Intelektual Dinilai Kurang Kreatif

Denpasar (Bisnis Bali) – Kini hampir semua lembaga pendidikan tinggi mengedepankan program studi berbasis lofeskill. Masih mendominasinya pengangguran intelektual dari tamatan SMU, Diploma, dan S1, dinilai lebih kepada perilaku personal lulusan yang kurang kreatif dan peka menangkap peluang, baik dalam bersaing di dunia kerja maupun usaha. Demikian, Ketua Kadin Kota Denpasar, Wayan Nugra Artana, Jumat (30/11).

Pengangguran intelektual bisa diartikan mereka yang tidak bekerja atau bekerja tapi tak sesuai dengan skilll yang dimiliki. Ini bisa terjadi dari sisi personal lulusan itu, karena mereka kurang kreatif dan berani bersaing sehingga muncul kesan hanya jadi penonton di daerah sendiri. Padahal, peluang kerja dan potensi usaha di Bali begitu berlimpah, dan memerlukan kreativitas lebih dari generasi muda Bali.

Sebut saja sektor pertanIan Bali dalam arti luas. Banyak komoditi pertanian seperti padi, buah, dan lainnya bisa dikembangkan untuk meningkatkan geliat perekonomian. Tak hanya itu, Bali yang memiliki sektor basis yakni pariwisata sangat menunjang pemasaran berbagai produk kearifan lokal lainnya mulai dari tekstil, kerajinan emas, perak, dan bidang jasa lainnya.

Jika kreativitas para agen pembaharuan yakni kalangan intelektual yang baru tamat di bangku kuliah bisa berbuat lebih, tentu dalam jangka waktu tertentu pengangguran intelektual takkan ada lagi. Yang ada justru jumlah wirausaha keningkat sehingga mampu mengejar nasional 3 – 5 persen.

Dia optimis, dengan peka menyikapi kondisi ini pihak terkait bisa mengantisipasi para lulusan pendidikan tinggi agar tak menganggur. Misal mengadakan latihan kerja atau wirausaha, maupun hal terkait yang berkaitan dengan permodalan, manajemen bisnis dan lainnya. Dampak dari bertumbuhnya worausaha di daerah yakni multiplier efek, sehingga ekonomi makin kuat, dan daya beli masyarakat juga meningkat.

Mengutip data Badan Pusat Statistik ( BPS) Bali, tngkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi Bali pada Februari 2018 mencapai 0,86 persen. Angka ini menurun 0,42 poin dibandingkan TPT Februari 2017 (1,28 persen) atau mengalami penurunan 0,62 poin dibandingkan TPT Agustus 2017 (1,48 persen).Meski menurun, tingkat pengangguran dari kalangan intelektual (tamatan SMA/SMK dan sarjana) masih mendominasi.

Sementara itu jumlah angkatan kerja di Provinsi Bali pada Februari 2018 mencapai 2.607.288 orang bertambah 138.184 orang, dibandingkan angkatan kerja Februari 2017 (2.469.104 orang) atau bertambah 172.838 orang dibandingkan angkatan kerja Agustus 2017 (2.434.450 orang). Kemudian jumlah penduduk yang bekerja di Bali Februari 2018 mencapai 2.584.943 orang bertambah 147.449 orang dibandingkan Februari 2017 (2.437.494) atau bertambah 186.636 orang dibandingkan Agustus 2017 (2.398.307 orang).

Menurut Kepala BPS Bali, Adi Nugroho, jumlah pekerja dengan pendidikan S1 pada Februari 2018 (266.226 orang) mengalami kenaikan 14,90 persen bila dibandingkan Februari 2017 (231.703 orang). (gun)