BPR di Karangasem tetap Bertahan dalam Situasi Sulit

Amlapura (Bisnis Bali) – Bank perkreditan rakyat (BPR) di Karangasem tetap bertahan hidup dalam situasi perekonomian yang sulit pasca-erupsi Gunung Agung. Kiatnya, dengan memberikan pelayanan yang nyaman bagi masyarakat di antaranya dengan pelayanan sistem jemput bola dengan nasabahnya.

Hal itu disampaikan Direktur Utama BPR Mitra Bali Artha Mandiri (MBAM), Putu Gunawan, saat ditemui di kantornya di Subagan, Karangasem, Jumat (30/11).

Putu Gunawan mengatakan, sebenarnya perekonomian di Karangasem sebelum gejolak Gunung Agung, belum sebagus kabupaten/kota lainnya. Artinya, Karangasem masih sepi. Sayangnya, kondisi itu diperparah lagi dengan gejolak dan disusul erupsi Gunung Agung. Saat itu perekonomian masyarakat sebagian besar terpuruk, usaha-usaha masyarakat sempat tutup, karena warga panik mengungsi. Kini, situasi sudah agak membaik. Perekonomian masyarakat mulai merangkak naik, namun belum begitu bagus. Pertumbuhan masih kecil. ‘’Kami di BPR tetap berusaha bekerja, bertahan dalam situasi sulit. Ini agar tetap bisa bertahan hidup. Kami menghadapi persaingan yang sangat ketat di tengah situasi yang belum bagus,” katanya.

Persaingan ketat, katanya, selain BPR harus berhadapan dengan bank umum, juga bersaing sesama BPR, belum lagi dengan koperasi, lembaga perkreditan desa serta lembaga lainnya.  Menurutnya, bersaing dengan bank umum, tanpa memiliki kiat tersendiri dengan memberikan pelayanan lebih memuaskan bagi masyarakat, tentunya tak mampu bersaing. ‘’Kalau kami di BPR bersaing dalam tingkat suku bunga, jelas kalah. Apalagi, saat pemerintah menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) juga lewat bank umum,’’ paparnya.

Gunawan mengatakan pihaknya sejak dilempar KUR oleh pemerintah dengan bunga rendah  ada juga nasabahnya yang ‘’cabut’’ lari beralih ke KUR. Namun, masih banyak juga yang bertahan di BPR yang dikelolanya. Sebab nasabah itu sudah percaya, karena didekati secara emosional. ‘’Banyak nasabah kami di BPR yang tetap bertahan, karena kedekatan emosional. Banyak nasabah bekerja sama dengan kita sejak usahanya masih kecil,’’ tambahnya.

Selain itu, pihaknya menerapkan pelayanan dengan sistem jemput bola. Di mana, nasabah dilayani dengan penjemputan tabungan atau pun pelayanan kredit. Selain itu, untuk bunga deposito mampu bersaing lebih tinggi dibandingkan dengan di bank umum. Di mana suku bunga di BPR lebih tinggi dari LPS. ‘’Untuk nasabah deposito, kepercayaan masyarakat menaruh deposito di BPR lebih tinggi, karena LPS-nya lebih tinggi. Selain itu, kami berupaya memberikan pelayanan dan memberikan pelayanan lebih cepat dalam memproses kredit, tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian. Masyarakat tak suka persyaratan dan proses yang berbelit-belit. Kami juga berupaya memperbaiki kualitas kredit, sehingga BPR tetap sehat,’’ katanya.

Pihaknya mengelola BPR, memberikan bunga kredit masih  bersaing 21 persen sampai 26 persen per tahun. Sementara bunga deposito sesuai ketentuan lembaga penjamin simpanan (LPS) bunganya 9,25 persen per tahun. Di BPR yang dikelolanya jangka waktu tabungan deposito ada sebulan, tiga bulan, enam bulan sampai jangka waktu setahun. Sementara itu, ketentuan dari pemerintah juga adanya perlakuan khusus bagi nasabah terdampak erupsi Gunung Agung di Karangasem, berupa pemberian relaksasi  kepada nasabah.

Di samping itu, biaya administrasi juga murah. Suku bunga juga bersaing, sehingga masih ada keuntungan antara nasabah dan pihaknya sebagai pengelola BPR. Sepanjang pengalamannya mengelola BPR, kata Putu Gunawan, nasabah di BPR yang dikelolanya, khususnya umumnya kalangan masyarakat dengan perekonomian menengah ke bawah. Sementara, yang menengah ke atas tentunya akan ke bank umum. ‘’Kami di BPR MBAM, melayani masyarakat nasabah bawah juga banyak. Yang menabung Rp 15 ribu atau Rp 25 ribu sehari, tetap kita layani dnegan baik dengan jemput ke rumah atau tempat usahanya,’’ paparnya.

Dari pantauan di Karangasem, ada empat BPR yang beroperasi. Selain BPR BMAM yang berkantor pusat di Kelurahan Subagan, juga BPR Utama juga di Subagan, BPR Nusamba serta sebuah BPR  di Padangbai. (bud)