Bisnis Tanah Kapling masih Primadona

Tabanan ( Bisnis Bali) –¬†Di tengah lesunya daya beli pasar, bisnis tanah kapling masih jadi incaran dibandingkan properti dalam bentuk rumah. Hal itu diungkapkan Fransiskus, salah seorang pebisnis tanah kapling, Jumat (30/11), di Tabanan.

Dikatakan, tanah kapling lebih diminati karena lebih prospektif untuk spekulasi dan investasi. Hal ini memberi harapan lebih besar bagi pemodal untuk bangkit dalam kondisi ekonomi yang sulit saat ini. Terutama tanah kapling yang memang berada di lokasi premium biasanya jadi rebutan pemodal. Dengan modal lokasi strategis sangat mudah bagi spekulan menjual kembali dengan harga tinggi.

Namun demikian dia mengatakan cukup sulit untuk memasok produk kapling dengan kreteria itu. Lalaupun ada jumlah unit sangat terbatas. Itu ozrena harga dasar lahan mahal, belum perizinan, pajak¬† dan fasos fasum, sehingga hanya konsumen tertentu yang bisa membeli. “Klasifikasi pasar akan terjadi karena harga – harga properti di kawasan elite makin tinggi, sementara hanya beberapa orang saja yang memiliki daya beli itu,” imbuhnya.

Dikatakan juga di beberapa kawasan saat ini harga tanah kapling cukup mahal. Di Denpasar Barat seperti kawasan Jalan Keboiwa, dan sekitarnya paling rendah Rp 500 juta dan lebih mahal di atas Rp 800 juta per are. Demikian kawasan lain dipastikan lebih mahal.

Menurutnya bisnis tanah kapling khususnya tetap primadona tergantung promosi. Terutama dengan menggaet pasar menengah atas, tanah kapling dengan lokasi strategis merupakan sarana investasi menjanjikan di masa datang.

Hal senada diungkapkan, pebisnis tanah kapling, Agustinus. Katanya tamah kapling lebih efisien dijadikan sarana investasi. Tak perlu perawatN berarti namun dipastikan setiap tahun harganya naik. Karena itu membeli tanah kaplong harus memperhatilan fasos fasum tersedia. Contohnya tersedia akses jalan dengan lebar memadai, dan kondisi fisik yang layak dan nyaman. (gun)