Denpasar (Bisnis Bali) – Pemanfaatan Subak Padanggalak, Kesiman Kertalangu, Denpasar yang sempat fakum, kini kembali ditata untuk dijadikan tempat destinasi wisata. Penataan dilakukan mulai dari perbaikan jogging track yang telah ada selama ini. Demikian disampaikan Perbekel Kesiman Kertalangu, I Made Suena, belum lama ini, saat ditemui di sela-sela menghadiri evaluasi TP PKK di Kelurahan Kesiman.

Di samping penataan jogging track, juga dilakukan penataan aliran sungai yang menuju ke subak Padanggalak, sehingga pengaturan air dapat dilaksanakan dengan baik. Suena menambahkan, penataan subak Padanggalak akan dijadikan sekolah alam bagi siswa sekolah dasar yang ada di lingkungan setempat.

Dia menjelaskan, penataan pada subak tersebut sebenarnya sudah dilakukan pada 2016 lalu. Bahkan penataan subak sebagai tempat edukasi bagi siswa ia mengklaim bahwa di sana paling pertama di Denpasar.

“Saat ini kami kembali tata Subak Padanggalak itu dengan melibatkan pengurus subak (pekaseh). Karena setiap siswa melakukan kelas alam di sana agar dijelaskan secara rinci apa saja komponen yang ada di sistem subak,” terangnya.

Sistem subak tersebut, dia mengaku siswa akan diberikan pengetahuan tentang irigasi. Seperti mana yang bernama pundukan, pengempelan, gerugan, sampai nama-nama alat yang digunakan dalam mengolah areal persawahan agar siap ditanam bibit padi.

Dengan demikian para siswa yang ada di sana menjadi lebih paham tentang subak, dan tidak sekedar melihat saja lantaran akan dipandu langsung oleh pengurus subak tersebut.

Suena memaparkan, keseluruhan kawasan subak seluas 80 hektar. Namun panjang jogging track yang sudah dibangun di sana sepanjang 1,5 kilometer saja. Pada sepanjang pinggiran jogging track itulah pihaknya akan mengisi sistem irigasi tersebut, sehingga sambil berjalan bisa dijelaskan langsung oleh pemandu dari pekaseh.

“Pada beberapa titik sepanjang jalan itu juga kita akan tanam pohon dan tanaman yang biasanya ditemui di persawahan. Tetapi kami utamakan tanaman yang sering digunakan bahan pelengkap upakara, ini juga sangat berpengaruh terhadap pengetahuan siswa. Selain teori mereka juga dapat secara langsung melihat atau praktiknya,” ucap dia.

Launching subak tersebut sebagai tempat edukasi siswa Suena mengaku pada awal 2019 mendatang, sedangkan terkait siswa, ia akan bekerja sama dengan 10 sekolah dasar negeri maupun swasta yang ada di desa setempat. Begitu juga dengan sekolah Taman Kanak-Kanak yang akan dijadwalkan setiap akhir pekan secara bergantian.

“Kalau untuk pesertanya kita sudah didukung oleh sekolah SD dan TK di lingkungan desa. Kita fokuskan dulu dari desa terlebih dahulu, secara bertahal baru kami buka untuk umum. Selain nama-nama alat dan tempat pada persawahan, dari pemandu juga akan ada menjelaskan proses upacara yang dilakukan di persawahan. Mulai membuat bibit padi sampai upacara setelah panen padi,” imbuh Suena. (sta)