Tabanan (Bisnis Bali) – Bali selalu menarik di mata investor. Karena itu pencarian produk properti Bali tak pernah surut. Bagi pebisnis dan jasa broker properti, ini juga dampak dari promosi di dunia maya yang dilakukan hingga menjangkau pasar internasional. Demikian diungkapkan salah seorang broker properti, Widya, Kamis (29/11).

Dikatakan, promosi online selain lebih efisien juga murah namun dampaknya jauh lebih besar dalam menggenjot penjualan. Jaman digital sekarang ini tak ada orang tanpa gadget. Inilah salah satu media yang digunakan untuk mencari produk properti untuk spekulasi maupun investasi.

Hanya dengan klik situs properti yang dituju, konsumen bisa memilih produk properti yang ingin dibeli atau disewa. Mulai dari spesifikasi, harga, lokasi, dan lainnya sudah tertera jelas di situs tersebut, kalau sudah merasa cocok tinggal cek lokasi dan transaksi.

Ini sangat memudahkan konsumen maupun pengembang dalam berinteraksi. Ke depan ini akan makin berkembang sehingga peran broker properti juga makin penting. Dalam interaksi broker sudah tentu harus komitmen memberikan layanan berkualitas. Ini penting agar refutasi dan kepercayaan pasar tetap dijaga.

Sebelumnya, pengembang Agustinus menyampaikan, perkembangan era digital akan menunjang promosi produk sehingga hasil penjualan lebih optimal. Ini mau tak mau dilakukan sehingga perlu kesiapan sumber daya manusia (SDM ) yang mumpuni.

Mengutip kompas, CEO Star Home, Andrew Alexander, pada diskusi bertajuk “Impact of Digital Era to Sales Property” menyampaikan kehadiran internet makin membuat pola kehidupan berubah total, karena jika sebelumnya orang melakukan segala sesuatu secara manual, kini internet membuat masyarakat mencari apa pun hanya lewat layar ponsel cerdasnya.

“Termasuk urusan cari properti seperti rumah atau apartemen. Berbeda dengan zaman dulu, mereka yang mau cari rumah atau apartemen harus lihat dulu iklan di media konvensional atau bertanya ke orang terdekat. Sekarang sudah berubah, orang bahkan bisa melakukan survai awal terhadap sebuah bangunan hanya dengan menggunakan jarinya,” kata Andrew.

Pola tersebut makin berkembang di dunia properti saat ini. Jika dulu tenaga pemasar atau penjual (sales) properti harus membawa brosur iklan dan menawarkan dari pintu ke pintu, sekarang mereka aktif melakukan penjualan melalui strategi digital marketing.

“Mereka sudah tak perlu buang banyak waktu si calon pembelinya. Bahkan, sekarang pembelinya bisa datang sendiri, karena sebagian besar calon pembeli rumah atau apartemen sudah mencari sendiri referensi di internet,” ujar Andrew.

Untuk menangkap potensi itulah, menurut dia, Star Home berinisiaif menjadi portal referensi properti dengan menyiapkan sebuah apps. Aplikasi ini bisa membantu tenaga penjual atau malah orang awam untuk mengontrol transaksi.

Sementara itu, CEO Bewei Digital, Hanny Setiawan, memprediksi tren penggunaan internet beberapa tahun belakangan di masyarakat modern makin berkembang. Hal itu juga yang membuat orang makin terbiasa mencari hunian lewat dunia maya.

“Beberapa tahun lalu jumlah pencari properti lewat internet hanya di kisaran 20-30 persen, sekarang jumlahnya melonjak jadi 95 persen. Sekarang ini kan orang cenderung memakai mesin pencarian Google untuk segala kebutuhannya,” cetus Hanny. (gun)