Pasar Heterogen,  TPT Bali makin Berpeluang

Denpasar (Bisnis Bali) – Tekstil dan produk tekstil (TPT) Bali memiliki peluang pasar ekspor yang cerah sehingga harus dipacu daya saingnya secara berkesinambungan. Demikian, pebisnis TPT Bali, Aryawati, Kamis (29/11).

Produk TPT Bali seperti endek, songket, batik, sutra , dan produk busana jadi lainnya memiliki kekhasan tersendiri sehingga dapat diandalkan dalam memenuhi kebutuhan pasar yang makin heterogen. Tak hanya konsumen lokal dan wisatawan, tapi juga ekspor guna meningkatkan perolehan devisa bagi negara.

Prospektifnya bisnis TPT Bali tak lepas dari imbas pariwisata dan digelarnya helatan internasional di Bali, sehingga pelaku usaha kecil menengah (UKM) bidang terkait dapat mempromosikan produknya dan ke depan potensi meningkatnya order dari para buyer optimis terjadi.

TPT Bali yang tak lepas dari unsur seni budaya orang Bali merupakan keunggulan bersaing dalam menghadapi kompetitor. Pasar TPT yang dinamis menuntut produsen dan desainer meningkatkan inovasi. Dengan menghadirkan produk baru TPT Bali yang beragam jenis dan variannya tetap mampu eksis sebagai salah satu usaha UKM yang memiliki kekuatan dalam menopang perekonomian.

Sebelumnya, Ketua Kadin Bali, Anak Agung Ngurah Alit Wiraputra memenyampaikan jika kebijakan bebas tarif di negara ekspor Amerika diberlakukan, produk tekstil Bali akan kena imbasnya. Katanya saat ini produk Bali bisa bersaing karena sebelumnya harga produk Cina lebih murah. Dengan mereka dikenakan tarif jadinya harga produk dari Bali lebih kompetitif.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, 10 besar negara tujuan ekspor dari Bali yakni Amerika Serikat 28,98 persen, Australia 8,1 persen, Singapura 8,28 persen,Jepang 6,91 persen, Hongkong 5,45 persen, Perancis 3,02 persen, Tiongkok 2,73 persen, Thailand 2,68 persen, Jerman 2,67 persen, Inggris 2,35 persen dan sebanyak 26,11 persen diekspor ke negara lainnya. Produk dari Bali yang banyak diekspor ke AS salah satunya pakaian jadi bukan rajutan, kayu, barang dari kayu, perabot penerangan rumah, jerami/bahan anyaman, kapas, dan lainnya.

Jika tak dikenakan tarif di AS, produk Indonesia akan dapat bersaing dengan komoditas dari Cina. Cina selama ini merupakan kompetitor utama khususnya produk tekstil Indonesia  karena harganya sangat murah jika dibandingkan dengan produk daerah. (gun)