Mangupura (Bisnis Bali) – Hingga memasuki operasional tahun kelima sejak 2013, Jalan Tol Bali Mandara yang dikelola Jasa Marga Bali Tol (JBT) masih tetap defisit. Pendapatan per tahun rata-rata Rp 160 miliar, sementara biaya yang harus dikeluarkan setiap tahunnya mencapai Rp 191 miliar.

Hal ini terungkap saat tatap muka media dengan JBT dengan Kelompok Media Bali Post (KMB) di Warung 63 Denpasar. Hadir pada kesempatan itu, Dirut JBT Enkky Sasono Anas Wijaya didampingi Corporate Secretary Drajad Hari Suseno, Direktur Keuangan Sukariyadi Rudi Meidiyanto, serta sejumlah pejabat lainnya. Dari KMB hadir, pimpinan Satria Naradha dan sejumlah pemred.

Menurut Enkky Sasono Anas Wijaya, anggaran yang harus dikeluarkan  meliputi pokok dan bunga Rp 136 miliar, serta operasional termasuk gaji pegawai Rp 55 miliar. “Setiap tahun kami masih defisit sekitar Rp 31 miliar,” ujarnya.

Walau begitu, Dirut optimis, dalam masa konsesi 45 tahun, jalan tol sepanjang 12,7 km tersebut berhasil meraup untung. “Sebagai sebuah usaha tentu tak boleh merugi,” katanya.

Badawang Nala

Untuk meningkatkan pendapatan perusahaan, pihaknya merancang sejumlah proyek. Di antaranya pembangunan pelayanan dan wisata dalm bentuk Badawang Nala. Destinasi ini akan dibangun di atas 5 hektar lahan mengapung dan berisi rest area, meeting room, stan-stan kuliner dan fasilitas lainnya. “Proyek ini juga akan menjadi destinasi wisata baru yang mampu menarik wisatawan,” katanya.

Proyek lainnya berupa pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). “Ini dipastikan akan manjadi sumber pendapatan baru bagi korporasi,” ujarnya.

Upaya lain yang akan dilakukan, tegasnya, berupa restrukturisasi finansial. Selama ini, pinjaman dalam bentuk floating rate atau naik turun. “Kami mengajukan restrukturisasi agar suku bunga yang diperoleh bisa fix rate atau tetap. Dengan restrukturisasi ini, suku bunga yang dibayarkan turun dari 9,7 persen per tahun menjadi 8-8,5 persen per tahun,” katanya.

Selanjutnya, pihaknya juga akan segera mencari dana segar dengan menerbitkan bond di bursa saham. Namun dari kebutuhan sekitar Rp 1 triliun, JBT hanya bisa memperoleh Rp 800 miliar. “Untuk bisa memperoleh dana segar di atas Rp 1 triliun, kami perlu membangunan fasilitas pendukung salah satunya pelayanan dan wisata dengan konsep bedawang nala,” katanya.

Apa tanggapannya terkait jalan tol Bali Mandara agar digratiskan saja? Menjawab ini, Corporate Secretary JBT Drajad Hari Suseno menambahkan, bisa saja itu dilakukan sepanjang dana investor yang menanam modalnya di jalan tol dikembalikan, tentu dengan keuntungan yang wajar.  “Saat ini 70 persen anggaran tol merupakan pinjaman,” katanya.

Pertimbangan lainnya, jalan tol perlu perawatan. Jika digratiskan, harus dicarikan sumber-sumber  dana untuk perawatan. Namun jika diambil dari APBD, dipastikan takkan adil. “Hal ini karena warga yang tak menggunakan jalan tol itu dibebani biaya perawatan,” katanya.

Karena itu, dia berharap, jalan tol tetap berbayar. Jalan tol adalah jalan yang dibiayai oleh pengguna.

Saat ini, jalan tol dibiayai oleh sejumlah instansi seperti Jasa Marga Bali Tol dengan kepemilikan 55 persen, Pelindo III 17,5 persen, Angkasa Pura 8 persen, ITDC 3 persen, Wijaya Karya 0,4 persen, Hutama Karya 3 persen, Adi Karya 3 persen, Pemprov Bali 8,01 persen, serta Pemkab Badung 8,01 persen. (sar)