NPL KUR BPD Bali di Bawah 1 Persen

Denpasar (Bisnis Bali) – Rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga saat ini masih tergolong sangat kecil, jauh di bawah batas maksimum yang ditetapkan pemerintah mencapai 5 persen. Kecilnya NPL KUR ini membuktikan ketaatan debitur di daerah ini untuk membayar kewajibannya.

Plt. Dirut Bank BPD Bali Nyoman Sudharma di Sanur, Selasa (27/11) kemarin mengatakan, untuk rasio NPL KUR hingga 22 November 2018, masih sangat kecil tidak sampai 1 persen atau di kisaran 0,17 persen. NPL KUR di Bali selalu rendah karena ketaatan pelaku usaha membayar kredit.

“Sejak program KUR diluncurkan angka NPL di BPD masih di bawah 1 persen. NPL KUR nol koma sekian  karena kami sangat selektif dalam memilih nasabah, karena kriterianya adalah yang usahanya feasible tetapi tidak bankable,” katanya.

Ia pun menerangkan, selain ketaatan debitur membayar kewajiban, bank juga berusaha menjaga NPL di bawah batas maksimum yang ditetapkan. Bank pun berkerja sama dengan Jamkrindo sebagai penjamin KUR. Itu berarti jika ada NPL, bank akan langsung mengklaim kredit macetnya ke Jamkrindo.

“Sama halnya dengan penyaluran kredit di luar KUR, strategi yang diterapkan yaitu analisis kredit bank melakukan seleksi awal calon debitur sebelum memutuskan untuk menyalurkan KUR,” ujarnya.

Upaya yang diterapkan tersebut terbukti membuat NPL KUR kecil dan penyaluran juga mengalami peningkatan. Itu terlihat dari penyaluran KUR di beberapa daerah terserap 100 persen. Dicontohkan untuk Karangasem, KUR mikro mencapai Rp420 juta maupun KUR kecil sudah mencapai Rp16,82 miliar atau target 100 persen tercapai. Begitu pula di Nusa Penida KUR kecil dan mikro tercapai 100 persen, termasuk daerah daerah lainnya.

“Penurunan suku bunga KUR dari 9 persen menjadi 7 persen efektif mendorong permintaan KUR BPD untuk wilayah Bali dan Lombok,” jelasnya.

Ia pun mengungkapkan, penyaluran KUR di Bali dan Lombok hingga 22 November 2018 telah mencapai Rp530 miliar atau telah menembus 98 persen dari target Rp550 miliar. Dari target penyaluran KUR tersebut terbagi atas sektor mikro dengan plafon maksimal Rp25 juta. Hingga 22 November 2018, penyaluran KUR mikro telah mencapai Rp22,17 miliar atau tercapai 96,40 persen dari targetnya Rp23 miliar.

Sementara KUR ritel (kecil) dengan plafon Rp 26 juta-Rp 500 juta mencapai Rp517,57 miliar atau tercapai 98,21 persen dari target Rp527 miliar.

“Jumlah debitur yang menerima KUR mikro mencapai 933 ribu orang dan KUR kecil mencapai 2,275 juta orang,” jelasnya. (dik)