Kredit Bank Berpotensi Tumbuh di tengah Ketatnya Likuiditas

Denpasar (Bisnis Bali) – Kredit bank tetap akan berpotensi tumbuh hingga akhir tahun, sementara pertumbuhan dana pihak ketiga tidak akan sekencang pinjaman. Tumbuhnya kredit di atas DPK ini diproyeksikan akan membuat likuiditas bank masih ketat hingga pengujung tahun.

“Di sinilah bank harus bisa melakukan efisiensi untuk mengatasi ketatnya likuiditas,” kata pemerhati perbankan Kusumayani, M.M. terkait likuiditas bank hingga akhir tahun di Sanur, Selasa (27/11) kemarin.

Ia mengatakan, likuiditas bank ketat bisa diketahui bila kredit tumbuh tinggi sementara DPK) tumbuh tidak lebih tinggi dari pinjaman. Itu membuat loan to deposit ratio (LDR) akan mengalami peningkatan.

“LDR yang tinggi berpotensi bank-bank menawarkan bunga lebih tinggi,” ujarnya.

Tren pengetatan likuiditas di industri perbankan tersebut efektif bila bank juga mengembangkan usaha berbasis efisien. Belum lagi tidak hanya likuiditas yang ketat, saat ini juga masih dibayangi rasio kredit bermasalah (NPL) yang tinggi. Rasio NPL yang tinggi akan menimbulkan biaya, begitu pula bila perbankan kekurangan likuiditas juga akan menimbulkan biaya.

“Umumnya perbankan untuk memenuhi likuiditas tersebut dengan meminjam ke tempat lain, tentunya dengan suku bunga yang lebih tinggi,” ujarnya.

Untuk dapat menghadapi likuiditas yang ketat, ia menyarankan, bank lebih kreatif memasarkan produk yang menarik dan disukai sesuai harapan masyarakat.

“Misalnya ketika masyarakat menempatkan dananya di bank ada layanan atau service yang menurut mereka sesuai,” terangnya.

Intinya, bank harus bisa memahami kebutuhan masyarakat. Bila itu bisa terpenuhi, bank akan mampu tumbuh.

Sementara pemerhati perbankan, IB Kade Perdana mengatakan, menghadapi likuiditas perbankan yang ketat yaitu dalam penyaluran kredit agar jangan melebihi kemampuan pasar.

Mantan Dirut Bank Sinar ini mengatakan, bila likuiditas perbankan ketat umumnya perbankan akan berusaha menarik DPK lewat pemberian suku bunga menarik, khususnya pada deposito. Kemungkinan bank akan memberikan bunga spesial dengan syarat-syarat tertentu.

“Kini pintar-pintar pengelola bank dalam mengatur hal tersebut sehingga likuiditas tidak ketat,” ujarnya.

Di tempat terpisah pemerhati perbankan Nyoman Sender mengatakan, kredit memang masih bisa tumbuh hingga akhir tahun karena September lalu masih di bawah simpanan. Itu terlihat dari data OJK triwulan III 2018, LDR mengalami penurunan 3,94 persen year to year atau di level 80,09 persen.

“Karena itu bila LDR perbankan mengalami penurunan berarti kredit tidak tumbuh proporsional dengan pertumbuhan dananya,” katanya.

Pria yang lama bergelut di dunia perbankan ini mengatakan, LDR mengalami penurunan karena penyaluran kredit menurun, sementara DPK cukup bertumbuh tetapi bank belum mampu menyalurkannya dalam bentuk kredit.

Ia pun menilai idealnya LDR yang baik mendekati 100 persen yang artinya tidak ada dana yang idle atau menganggur. Belum proporsonalnya pertumbuhan kredit, kata Sender juga akan rentan berimbas kepada sulitnya menekan biaya operasional pendapatan operasional (BOPO). BOPO merupakan hal saling bekaitan sebab jika pendapatan lebih besar dari biaya operasional, maka perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Berdasarkan data OJK Regional 8 Bali Nusra, dari sisi LDR bank umum September 2018 berada di level 77,46 persen atau turun 3,40 persen dari September 2017 di level 80,86 persen. Bank syariah 137,87 persen turun 48,54 persen dan BPR 71,65 persen atau turun 1,34 persen dari kondisi sama 2017 di level 72,99 persen. Sementara dari sisi BOPO bank umum lebih baik yaitu turun 9,25 persen dari 82,46 persen menjadi 73,21 persen, bank syariah naik 53,79 persen dari 84,70 persen menjadi 138,50 persen dan BPR naik 1,02 persen dari 78,92 persen menjadi 79,94 persen. (dik)