Promosi Digital, Tingkatkan Popularitas Endek Bali

Denpasar (Bisnis Bali) – Endek dengan motif tradisional merupakan salah satu kain tenun ikat Bali yang mesti dilestarikan dan dikembangkan untuk meningkatkan nilai ekonominya. Agar lebih dikenal luas, pebisnis diharapkan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi lewat promosi digital. Demikian Owner Bali Puspa Bordir, Jro Puspawati, Rabu (21/11).

Untuk itu kesiapan sumber daya manusia ( SDM) dalam promosi merupakan tuntutan di era revolusi industri 4.0. Tanpa dukungan SDM yang mumpuni dalam promosi diyakini hasilnya takkan optimal. Kendati kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ( TIK) makin berkembang, bukan berarti promosi langsung tak penting lagi. Jika ada kesempatan promosi langsung ke luar negeri dalam rangka mengikuti festival, atau pameran tentu keduanya akan saling mendukung.

Dengan  promosi digital Selain lebih efisien dan ekonimis, ini akan sangat memperkuat promosi langsung untuk jangka waktu yang panjang dan secara kontinu. Sebab tak jarang saat ikut pameran tak langsung terjadi transaksi. Namun dengan didukung promosi digital tak jarang order justru datang setelah pameran. Endek Bali merupakan produk khas yang dibuat dengan kemampuan seni tinggi. Motif tradisionalnya yang unik mengandung nilai seni dan ekonomi tinggi. Ini akan menjadi keunggulan komparatif menghadapi produk kompetitor.

“Saya yakin promosi digital lebih bermanfaat, tinggal pemotif atau produsen endek menggenjot inovasi sehingga produk yang dihasilkan berdaya saing tinggi, dan terserap pasar secara optimal tentunya,” tambahnya.

Endek memiliki keunggulan tak hanya dalam bentuk kain, tapi juga busana jadi. Inilah yang membedakan dengan jenis tenun ikat ( songket). Dengan meningkatkan nilai guna endek, tentu harga jualnya juga meningkat.

Hal senada disampaikan desainer Yenli Wijaya. Tambahnya promosi digital lebih luas sehingga makin mempopulerkan endri. Kementerian Perindustrian terus memacu industri kecil dan menengah (IKM) untuk naik kelas, yakni dengan pemanfaatan teknologi terkini sehingga dapat lebih mendongkrak pendapatannya.

Misalnya, mengajak bergabung dalam program e-Smart IKM yang bertujuan meningkatkan akses pasarnya melalui fasilitas internet marketing. “Di era ekonomi digital, salah satu langkah strategis yang perlu didorong untuk IKM adalah kemudahan access to market. Hal ini sesuai dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta.

Menperin menjelaskan, di era revolusi industri 4.0, IKM tidak harus punya toko atau berjualan di mal. Saat ini, mereka bisa masuk ke e-commerce platform dan produknya dijual lewat distribusi network.

“Ini untuk empowerment IKM ke depannya, karena kunci industri 4.0 adalah peningkatan produktivitas,” tuturnya.

Airlangga memberikan apresiasi kepada para pelaku IKM nasional yang sudah bisa menembus pasar ekspor karena produk yang dihasilkannya beragam dan berkualitas. Direktur Jenderal IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih menyampaikan, pihaknya gencar mengajak pelaku IKM di dalam negeri agar bisa terlibat di dalam program e-Smart IKM.

Hingga Oktober 2018, peserta yang telah mengikuti e-Smart IKM sebanyak 4.000 pelaku usaha dengan total omzet sudah mencapai Rp1,3 miliar.

“Kemenperin menggagas platform e-commerce bertajuk e-Smart IKM ini sebagai upaya pemerintah membangun sistem database IKM yang diintegrasikan melalui beberapa marketplace yang sudah ada di Indonesia,” paparnya.

Menurut Gati, program e-Smart IKM yang diluncurkan sejak tahun 2017 telah dilaksanakan di 22 provinsi dengan melibatkan lima lembaga, yaitu Bank Indonesia, BNI, Google, idEA serta Kementerian Komunikasi dan Informatika. Selain itu menggandeng pemerintah provinsi, kota dan kabupaten.

“Program e-Smart IKM juga telah bekerja sama dengan marketplace seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, BliBli, Blanja.com, Ralali, dan Gojek Indonesia,” sebut Gati.

Adapun sembilan komoditas yang tengah difokuskan pengembangannya di dalam skema program e-Smart IKM, yakni makanan dan minuman, logam, perhiasan, herbal, kosmetik, fashion, kerajinan, furnitur, dan industri kreatif lainnya. (gun)