Bank harus Bisa Baca Peluang dan Tantangan

Denpasar (Bisnis Bali) – Kalangan pengelola bank diharapkan mengingat akan segera masuknya MEA 2020 khusus perbankan. Untuk itu persiapan sudah mulai dilakukan, meski pergantian tahun tinggal satu bulan lagi.

“Pengelola perbankan diharapkan sudah memiliki pandangan ke depan terkait peluang dan tantangan pada 2019 mendatang,” kata pemerhati perbankan Dr. Irawan di Sanur, Minggu (18/11).

Bank dinilainya perlu memerhatikan MEA pada 2020 mendatang karena pada saat itu ada peluang negara-negara seperti Eropa maupun Asia akan mulai tertarik menyimpan dananya di perbankan dalam negeri. Ini yang membuat persaingan bank akan kian ketat mulai tahun mendatang.

Di dalam negeri, bank harus memikirkan modal kuat karena menjadi pertimbangan apalagi fintech lending akan banyak bermunculan sehingga teknologi menjadi hal utama, seperti digital banking. Saat MEA 2020, perbankan tidak mungkin menetapkan suku bunga tinggi karena banyaknya dana asing yang masuk.

Untuk itu, bank harus bisa juga membaca peluang dan tantangan tersebut sebab kedua hal tersebut sepanjang masa akan selalu ada. Bank pun harus memikirkan konsolidasi sebab ke depannya otoritas tidak mungkin mengurangi bank, tapi mengarahkan merger.

“Bisa mengisi peluang dan menghadapi tantangan maka perbankan bisa tetap eksis dan berkembang maju. Sebaliknya bila salah prediksi akan menjadi mundur atau bangkrutnya bank,” katanya.

Untuk itu seorang bankir dituntut juga agar memiliki kemampuan untuk melihat jauh ke depan (visioner). Tak kalah penting bank perlu meningkatkan efisiensi agar dapat meningkatkan daya saing. Hal sama dikatakan mantan Dirut Bank Sinar IB Kade Perdana, bank-bank kecil harus mulai memperhatikan ekosistem persaingan atau arah pasar mereka. Karena ke depannya, bank tidak dapat bergantung hanya kepada bunga kredit.

Yang perlu dipersiapkan bankir seperti kemungkinan apa yang akan terjadi dan apa yang harus dilakukan agar banknya bisa tetap eksis dan menjadi makin maju sepanjang masa (going concern).

“Tantangan atau ancaman harus bisa dikelola secara baik dan benar maupun efisien dan efektif serta fokus dan ulet dengan mengedepankan kreativitas dan inovatif,” jelasnya.

Itu didukung dengan sikap profesionalisme dan strategi yang tepat maka akan bisa menjelma menjadi peluang. Demikian pula sebaliknya peluang bisa berubah menjadi ancaman bagi suatu bank, bila tidak tertangani dengan baik dan benar, serta terabaikan dan lemahnya sikap profesionalisme, teknologi informasi, pengelolaan risiko, prinsip kehati-hatian dan azas good corporate governance (GCG).

 “Belakangan ini dengan kemajuan teknologi informasi yang terus berkembang sejalan dengan globalisasi maka peluang dan ancaman pada dunia perbankan menjadi makin kompleksnya,” terangnya. (dik)