Tabanan (Bisnis Bali) – Sekarang ini di tengah makin modernnya gaya desain properti atau perumahan, kondisi tersebut tak menggerus keberadaan pengerajin bedek yang memanfaatkan anyaman bambu. Kerajinan tersebut tetap eksis, bahkan mengantongi peningkatan permintaan sekarang ini.

Salah seorang perajin bedek di Banjar Tegal, Desa Kukuh, Marga Ni Made Garis, di Tabanan, Kamis (15/11) mengungkapkan, hampir 20 tahun lebih menggeluti pekerjaan sebagai pengerajin bedek. Hasil cukup lumayan, untuk membantu perekonomian keluarga. Sebab, permintaan pasar akan hasil kerajinan dengan  menonjolkan kesan alami yang biasanya diperuntukan untuk atap (plafon) maupun dinding rumah ini tidak pernah sepi.

“Seiring dengan itu harga bedek pun menjadi tetap stabil, bahkan cendrung mengalami kenaikan saat ini,” tuturnya.

Jelas Garis, harga bedek dengan ukuran 3 kali 2 dengan jumlah lima lembar mencapai Rp230 ribu, sedangkan untuk harga per lembar dibandrol Rp50 ribu. Akuinya, harga tersebut cendrung mengalami lonjakan dibandingkan sebelumnya, karena sempat dulunya harga bedek ini hanya mencapai Rp200 ribuan per lima lembar.

Lonjakan harga bedek ini terjadi semenjak bencana gempa, di mana mengakibatkan permintaan pasar bedek mengalami lonjakan. Prediksinya, gempa telah membuat sejumlah rumah (khususnya bangunan bali-bali) mengalami kerusakan, sehingga dilakukan renovasi atau perbaikan.

Selain itu, permintaan pasar juga terjadi karena keinginan kosumen yang ingin menonjolkan kesan klasik pada bangunan rumah, sehingga mereka (konsumen) memilih menggunakan bedek.

“Biasanya untuk pemasaran, kami mengumpulkan bedek yang sudah jadi di Koperasi Tegal Sari. Barulah dipasarkan ke wilayah yang ada di Bali. Namun saat ini sudah ada yang pesan, tinggal dibawa ke lokasi pemesanan,” ujarnya.

Saat ini di Banjar Tegal ada sekitar 150 anggota pengerajin bedek yang sebagian besar adalah kalangan ibu rumah tangga. Sementara untuk bahan bedek, yaitu bambu diambil dari lahan yang ada di desa. Jika kesulitan bahan, maka didatang dari luar.

“Untuk bahan kami tidak membeli bambu dalam bijian, namun dalam bentuk satu ikat bambu dengan jumlah bisa mencapai 30 biji batang bambu. Harganya, Rp 500 ribu,” tandasnya.

Tambahnya, dari jumlah bahan baku tersebut mampu menghasilkan 20 lembar bedek. Nantinya, hasil dari penjualan, sebagian masuk ke kas koperasi. (man)