Kualitas Rumah jadi Harga Mati bagi Pengembang

Tabanan (Bisnis Bali) – Menjaga serta meningkatkan kualitas perumahan merupakan salah satu indikator penting yang dilakukan pengembang menjaga kepercayaan pasar. Sebab ketika harga rumah naik tentu harus diikuti peningkatan kualitas. Demikian, pengembang rumah nonsubsidi, Adi Nugraha, Kamis (15/11).

Kualitas rumah itu harga mati karena berpengaruh besar terhadap serapan pasar. Kualitas dalam hal ini mulai dari lokasi perumahan, model desain dan konstruksi bangunan, fasos – fasum yang memadai, dan lainnya. Jangan sampai ketatnya persaingan kualitas konstruksi rumah dicurangi. Akibatnya muncul kasus rumah ambruk di saat musim hujan, atau  atap jebol sebelum ditempati.

Menyikapi hal ini pengembang harus memiliki komitmen menggunakan material bermutu, dan teknik konstruksi sesuai dengan yang ditentukan. Dengan menjaga kualitas bangunan diyakini kepercayaan pasar akan bisa digaet.

Selain itu konsumen yang membeli rumah berkualitas dari sisi aspek investasi dan spekulasi akan makin cerah. Ketika hal ini dirasakan konsumen diyakini citra dan refutasi pengembang di mata konsumen akan positif. Imbasnya dijual sedikit mahal pun konsumen takkan urung membeli.

Hal senada disampaikan pengembang Putu Ardana. Bisnis perumahan bersipat nyata. Jadi mengutamakan kualitas produk menentukan hasil akhir yang ingin dicapai. Ini pula yang bisa meningkatkan daya saing menghadapi kompetitor yang kini marak mengembangkan proyek dalam berbagai tipe dan berbagai lokasi. Adapun model hunian yang harus dipastikan kualitasnya terjaga yakni, model rumah river side.

Model hunian ini umumnya tanahnya bertekstur terasering sehingga konstruksinya harus dipastikan handal. Untuk itu pengawasan dari unsur terkait saat pembangunan diharapkan menanggulangi hal – hal tak diinginkan di kemudian hari. (gun)