Daya Beli Lemah, Industri Furniture Dituntut Kreatif

Tampak perajin mengerjakan beberapa pesanan konsumen.

Singaraja (Bisnis Bali) – Industri kerajinan dewasa ini mengalami penurunan hingga 50 persen. Penurunan ini akibat dampak perlambatan ekonomi global yang berimbas terhadap melemahnya daya beli konsumen. Hal itu juga dirasakan Gusti Ngurah Dharmayasa seorang perajin sekaligus pemilik usaha furniture dari kawasan Kelurahan Kaliuntu Singaraja.

Meskipun daya beli masyarakat saat ini menurun, namun masih mencatat keuntungan. Sebagai perajin ia mengaku tak ingin berpatokan pada tren pasar keluar dari kompetitor untuk menghindari terjadinya persaingan pasar. Dengan inovasi dirinya mencoba menggiring penikmat furniture pada produk – produk furniture yang unik. Sehingga dunia furniture akan mampu kembali terangkat dengan model atau desain-desain yang baru yang belum pernah ada.

Berbagai macam produk furniture yang biasanya dicari pasar seperti kitchen set, meja, kursi dan masih banyak lagi dengan model khas tidak dimiliki oleh perajin atau usaha furniture yang ada. Dengan desain furniture yang unik dirinya bermain pada desain dan tehnik pewarnaan sehingga memiliki ciri khas.  “Dengan kita tampil unik lah menjadi salam satu cara untuk mendorong daya beli masyarakat ada harga ada juga kualitas,” terangnya.

Sejauh ini ia memandang perlemahan ekonomi jangan sampai menjadi keterpurukan serta enghambat untuk terus berkarya. Apalagi Buleleng untuk ketersediaam bahan baku furniture masih sangat mendukung. Dengan pemanfaatan bahan baku lokal akan memberikan multiflayer efect tidak hanya perajin atau pemilik usaha juga masyarakat. (ira)