NPL Perbankan Bali Memprihatinkan

Denpasar (Bisnis Bali) – Total rasio kredit bermasalah atau non performance loan perbankan (bank umum, bank syariah dan BPR) di Bali hingga triwulan III 2018 telah mencapai 3,78 persen. NPL perbankan tersebut rata rata berada di atas 3 persen dan dianggap sangat memprihatinkan.

“Total NPL perbankan September 2017 mencapai 3,70 persen namun membaik Desember 2017 menyentuh 3,42 persen. Tetapi pada September 2018,  NPL ini naik ke level 3,78 persen atau berarti sangat memprihatinkan,” kata pemerhati perbankan IB Kade Perdana di Sanur, Rabu (14/11).

Perbankan perlu melakukan berbagai terobosan tanpa meninggalkan kehati-hatian dalam pemberian kredit dan memperbaiki posisi NPL serendah mungkin, paling tidak berada pada level di bawah 3 persen dan meningkatkan pendapatan bunga kredit agar mampu memperoleh raihan laba yang signifikan sekaligus meningkatkan kontribusi perbankan sebagai sistem keuangan yang merupakan bagian dari mesin ekonomi terpenting dalam rangka pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Wakil Kadin Bali Bidang Finansial dan Moneter tersebut juga menilai pertumbuhan kredit sepanjang tidak terjadi kenaikan bunga acuan BI 7 DRR maka dengan sisa waktu kurang dari dua bulan menjelang akhir 2018, pertumbuhan kredit perbankan diperkirakan bisa mencapai 13 persen plus minus 1 persen pada 2018.

Berdasarkan data OJK Regional 8 Bali Nusra menunjukkan total NPL perbankan di Bali ada kenaikan 0,08 persen yoy dari September 2017 berada di 3,7 persen. NPL tersebut tertinggi disumbang BPR dari September 2017 berada di 7,82 persen menjadi 9,24 persen pada September 2018, disusul bank syariah dari 4,54 persen menjadi 8,20 persen atau naik 3,66 persen yoy pada September 2018.

Sementara NPL bank umum hingga September 2018 mencapai 2,91 persen atau mengalami penurunan 0,21 persen year to year dari September 2017 di level 3,12 persen.

Selain dari sisi NPL, Kade Perdana juga melihat LDR perbankan Bali pada September 2018 berada di 80,09 persen atau mengalami penurunan 3,94 persen dari periode September 2017 yang mencapai 84,03 persen. Itu menunjukkan terjadinya perlambatan dalam penyaluran kredit perbankan.

“Padahal masih ada ruang penyaluran kredit perbankan sesuai aturan BI sampai dengan LDR mencapai 92 persen,” paparnya.

Begitupula dari sisi ROA bank umum yang tercatat September 2017 tercapai 3,09 persen namun pada September 2018 menjadi 2,97 persen seirama dengan perlambatan penyaluran kredit. ”Makin maksimal LDR maka ROA terdongkrak lebih tinggi idealnya bisa capaiannya 5 persen lebih agar makin baik dan efektif dalam tata kelola aset,” jelasnya. (dik)