Tabanan (Bisnis Bali) – Selama ini budidaya tanaman palawija saat musim kemarau. Petani hanya memilih salah satu komoditas palawija baik jagung, kedelai atau komoditas lainnya. Untuk meningkatkan pendapatan petani, Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Provinsi Bali tengah menggalakkan gerakkan tanam tumpangsari jagung dan kedelai.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Provinsi Bali Ida Bagus Wisnuardhana menggelar Gerakan Tanam Tumpangsari jagung dan kedelai di Subak Kesiut Desa Kesiut, Kerambitan Tabanan.

“Tumpangsari jagung dan kedelai ini bertujuan meningkatkan produksi jagung dan kedelai yang saat ini rata-rata luas tanamannya sebesar 16. 000 Ha (jagung) dan 4000 (kedelai) atau 20. 000 Ha dari total 79, 526 Ha luas sawah di Pulau Dewata,” paparnya.

“Tumpangsari  memiliki banyak keuntungan, terutama efisiensi tenaga kerja, lahan dan biaya produksi, sehingga keuntungannya semakin besar saat panen.”

Ia juga mengupayakan peningkatan pendapatan dengan cara pengolahan tanah yang baik dengan menggunakan pupuk dasar dolomit untuk memperbaiki kesuburan tanah, menggunakan bibit unggul, mengatur dan perbaiki cara tanam, pemeliharaan tanaman, dan sedapat mungkin menjual komoditas dalam bentuk hasil.

Terkait tanaman padi, ia menjelaskan, rata-rata luas tanam padi pertahun di Bali mencapai 150.000 Ha (rata-rata dua kali setahun). “Total luas sawah di Bali 79, 526 Ha, meliputi 1. 603 subak sawah. Dan sawah terluas ada di Tabanan (21.452 Ha). Rata-rata luas tanam padi sawah pertahun di Bali 150.000 Ha (dua kali setahun) sedangkan rata-rata luas tanaman jagung 16. 000 Ha dan kedelai 4000 Ha,” pungkas IB Wisnuardhana. (pur)