Vaksinasi, Cara Terbaik Cegah Mewabahnya JE

Denpasar (Bisnis Bali) –  Japanese encephalitis (JE) beberapa waktu lalu sempat mengejutkan masyarakat Bali karena merupakan penyakit yang mematikan. Risiko penyebaran penyakit ini pada manusia biasanya meningkat pada musim penghujan dan di malam hari karena disebarkan melalui nyamuk.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya, MPPM.,  memaparkan, nyamuk Culex tritaeniorhynchus yang menyebarkan virus JE banyak terdapat di persawahan, area irigasi, dan peternakan babi. “Kasus JE tidak menunjukkan gejala berarti, pada beberapa orang, gejala dapat muncul 5-15 hari setelah digigit nyamuk yang terinfeksi virus. Gejala awal yang muncul dapat  berupa demam, menggigil, sakit kepala, lemah, mual, dan muntah,” paparnya di Denpasar.

Namun, gejala infeksi yang parah dapat ditandai dengan peradangan otak, yang disertai dengan demam tinggi mendadak, sakit kepala, tengkuk kaku, koma, kejang, hingga kelumpuhan. Komplikasi terberat adalah kematian, yang terjadi pada 20-30% kasus encephalitis.

“JE ini belum ada obatnya sehingga cara terbaik adalah pencegahan dengan melakukan vaksinasi. Makanya pemerintah berupaya keras memberikan vaksinasi gratis kepada pelajar di Bali,” ungkapnya.

Bahkan untuk 2018 ini pada April Dinkes Bali telah melakukan vaksinasi JE terhadap lebih dari 900 ribu anak usia 9-15 tahun, dengan capaian 101,78% dari target. Setelah vaksinasi tersebut tidak ada lagi kasus JE dilaporkan di Bali.

“Memang pada Januari dilaporkan satu kasus JE, tapi hasilnya negatif. Makanya bila ada pemberitaan di Australia terjadi wabah JE di Bali, itu sama sekali tidak benar,” tukasnya.

Karenanya memasuki musim penghujan ini, pihaknya menghimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan memberantas sarang nyamuk. “Selain mencegah mewabahnya demam berdarah juga mencegah merebaknya JE,” tandasnya.

Ia berharap kesadaran masyarakat mengikuti vaksinasi yang diwajibkan pemerintah. Di sisi lain kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan juga diharapkan dapat meningkat. “Apa pun penyakit pasti bersumber dari budaya hidup yang tidak sehat dan kurangnya kesadaran menjaga kebersihan. Makanya, ayo kita jaga kebersihan diri dan lingkungan,” pungkasnya. (pur)