Denpasar (Bisnis Bali) – Sanggar Sura Pradnya, Tampaksiring, Gianyar  berkesempatan tampil di ajang Bali Mandara Nawanatya 2018. Dengan menyajikan garapan berjudul Lanying, penari yang sebagian besar anak-anak ini mampu memukau penonton di Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar.

Pemilik sanggar sekaligus penata koreografi, I Ketut Gede Agus Adi Saputra, S.Sn (30) mengungkapkan, garapan  ini merupakan tari etnik fusion yang terinspirasi dari benda-benda tradisional Bali, yakni kukusan dan capil, dipadukan dengan hasil karya seniman I Nyoman Sura (alm). Dari sana muncul ide merekonstruksi menjadi bentuk garapan baru dalam konteks Bali Creative Performance.

“Sebenarnya dulu sudah ada garapan Lanying tapi belum terealisasi karena guru Saya (I Nyoman Sura) keburu meninggal. Saya coba kemas kembali dari ide-ide beliau,” ungkap Agus.

Garapan ini berlatar dari pemikiran-pemikiran atau keinginan manusia yang amat tajam. Selalu ingin bebas dan meraih apa yang diinginkan. Ketajaman dari keinginan kadang-kadang membelenggu manusia menjadi kikir dan penuh egoisme. Tetapi ketika ketajaman pemikiran menjadi landasan ke arah positif maka akan melepaskan manusia dari hal yang negatif.

“Tajamkanlah pemikiran pada kreativitas maka hidup ini akan indah. Saya mengaplikasikan kukusan dan capil itu ke dalam kostum, ornamen dan gerak yang lebih menonjolkan suatu bentuk persembahan. Garapan ini juga didedikasikan untuk mengenang 5 tahun kepergian sang maestro I Nyoman Sura (tribute to Nyoman Sura),” imbuhnya.

Garapan ini dipersiapkan selama 3 bulan dengan melibatkan sekitar 35 penari anak-anak dari Sanggar Sura Pradnya, Sura Pradnya Dance Group, SPENSYA Denpasar, serta beberapa penari remaja. Selain itu juga didukung lighting man, music director dan tim kreatif sehingga garapan dari sanggar yang baru pertama kali tampil di even budaya Provinsi Bali ini mendapat sambutan antusias dari penonton dan para kurator seni yang hadir.

“Ini kali pertama kami mendapat wadah yang luar biasa dari Pemprov Bali. Saya sampai terharu melihat anak-anak yang biasanya hanya pentas di Pura tetapi sekarang bisa tampil di panggung dan event yang besar. Semoga event seperti ini tetap terselenggara ke depan sehingga seniman muda memiliki wadah untuk menuangkan kreativitas,” harapnya. (dar)