Gianyar (Bisnis Bali) – Kredit yang disalurkan ke nasabah (debitur) bisa tak digunakan sesuai peruntukan. Wakil Ketua DPK Perbarindo Gianyar, Made Sarwa Senin (12/11) mengatakan, dalam proses pembinaan ke nasabah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) mesti mewaspadai kredit spekulasi.

Penyaluran kredit dengan spekulasi akan memuncul kredit bermasalah. Ini mesti menjadi perhatian manajemen BPR untuk melakukan pembinaan kepada debitur.  Dipaparkannya, posisi BPR memberi bunga dana agak tinggi. Ini terkait dengan bunga LPS BPR lebih tinggi dari bank umum.

Menurutnya, BPR menghadapi persaingan dalam penyaluran kredit. Dalam ekspansi kredit BPR dihadapkan banyak pesaing baik bank umum maupun lembaga keuangan lain.  Direktur BPR Gianyar Partasedana melihat persaing BPR dalam menggarap sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM),l terutama kredit usaha rakyat (KUR) bank umum.

“Kredit yang disalurkan BPR agak terbatas akibat persaingan dengan KUR,” ucapnya.

Ia meyakinkan, BPR memang mengalami dilema ketika bank umum menyalurkan KUR ke sektor UMKM. Ancaman debitur BPR take over ke KUR selalu ada.

Melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pemerintah perlu mencari solusi dan kebijakan terkait pergeseran debitur BPR ke KUR bank umum. Industri BPR menyikapi positif bank umum melakukan penyaluran KUR, mesti BPR menghadapi kondisi ekonomi yang cukup sulit. (kup)