Denpasar (Bisnis Bali) – Masih lemahnya perekonomian secara global mempengaruhi turunnya daya beli masyarakat. Ditambah harga bahan baku dan upah pekerja yang tinggi, serta adanya produk tiruan membuat beberapa produk kain tenun tak bisa memasang harga yang sesuai.

Salah seorang pengusaha kain tenun Bali dari Karangasem, I Wayan Suartana, mengaku, untuk tetap bertahan, pihaknya tak bisa memasang margin seperti sebelumnya. Ada penurunan sekitar 5-10 persen. “Misalnya kalau dulu kita ambil margin sekitar 20 persen, saat ini 15 persen,” ungkap pria yang akrab disapa Pak Kawi ini.

Hal tersebut dipengaruhi beberapa faktor, seperti kenaikan harga bahan baku, akibat tingginya nilai tukar dolar terhadap rupiah, ditambah upah tenaga kerja yang juga cukup tinggi. Di samping itu, keberadaan kain printing dengan motif tenun Bali juga turut mempengaruhi harga jual kain tenun Bali.

“Kalau dicari dari prinsip ekonomi, naiknya harga bahan baku, harga jual semestinya ikut naik. Namun dalam kondisi lemahnya perekonomian saat ini, kami tak bisa menaikkan harga, nanti malah tak ada yang beli,” ujarnya.

Dalam memberi harga produk saat ini harus disesuaikan dengan kondisi pasar dan daya beli masyarakat. Jika mematok harga terlalu tinggi, resiko produk tidak terjual bisa saja terjadi. Sehingga pihaknya selalu mengikuti informasi pasar dan inovasi produk untuk menyesuakan harga produk saat ini.

Sementara itu, pengusaha tenun lainnya, Putu Pande Ngurah Saputra Wiguna, mengaku, adanya persaingan dengan produk pabrik, bukan suatu permasalahan yang komplek, karena dari segi kualitas tenun adalah buatan tangan tentu jauh berbeda.

“Justru yang jadi persaingan kami adalah dari segi upah tenaga kerja. Di luar Bali upah tenaga kerja sangat murah, sehingga untuk memproduksi lebih banyak itu mudah. Sedangkan kita disini, selain upah tinggi, regenerasi SDM juga terkendala,” ungkapnya sembari mengatakan upah tenaga kerja di Bali 300 persen lebih mahal dibandingkan di luar Bali.

Hal ini akan menjadi persaingan serius ke depannya, jika regenerasi SDM tak ada. Saat ini permintaan kain tenun Bali cukup ada. Soal harga memang cukup bersaing saat ini, di mana masyarakat lebih memilih harga terjangkau saat ini dibandingkan kualitas. Dengan itu pun dia mengaku harus bisa mengikuti situasi pasar dengan berinovasi menciptakan produk-produk yang sesuai.  (wid)