Sektor Pertanian dan Ekraf Efektif Dongkrak Kredit Bank

Mangupura (Bisnis Bali) – Masuk November 2018, perbankan terus berusaha meningkatkan target bisnisnya agar mencapai target yang telah ditetapkan tahun ini. Beberapa sektor masih menjadi menjadi andalan di antaranya sektor pertanian hingga ekonomi kreatif.

Manajer Dana salah satu bank nasional, Yuliani di sela-sela seminar sehari di Nusa Dua, Jumat (9/11) kemarin mengatakan, beberapa sektor masih terus ditingkatkan pertumbuhannya hingga akhir tahun ini, meski kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia masih membayangi.

Tahun ini pihaknya mematok pertumbuhan kredit 12-20 persen dan dana pihak ketiga (DPK) antara 10-17 persen pada 2018 ini. Untuk meujudkan hal tersebut, ada beberapa sektor yang menjadi fokus perbankan guna meningkatkan sektor bisnis. Sektor-sektor tersebut merupakan pengembangan produk hingga terbaru yang sebelumnya belum dilirik perbankan.

“Pada 2018 kami kami mefokuskan sektor ekonomi kreatif, pertanian, properti, teknologi dan terakhir infrastruktur termasuk pariwisata. Hasilnya sangat memauskan mendongkark pertumbuhan kredit,” paparnya.

Bayang-bayang kondisi Gunung Agung dan gempa Lombok terhadap pertumbuhan kredit, diakui sedikit tidaknya mempengaruhi kelancaran pembacaran namun itu semua kini sudah lebih baik.

Diakui beberapa sektor usaha menjadi perhatian bank karena memang menjanjikan dan mampu bertahan di segala gejolak ekonomi. Ekonomi kreatif menjadi fokus karena banyak bank belum melirik usaha di usaha kreatif, selanjutnya pertanian yang masih harus ditumbuhkan di Bali.

“Begitupula properti yang kami lihat sekarang sudah mulai ada pergerakan, termasuk pengembangan infrastruktur sesuai visi pemerintah maupun perbankan yang ada di Bali dan Nusa Tenggara,” ujarnya.

Ia mengatakan, sektor-sektor tersebut mampu tumbuh karena keoptimisan perbankan terhadap usaha yang dapat tumbuh lebih besar pada 2018, seiring dengan kondisi perekonomian yang makin membaik.

Sektor properti misalnya. Menjelang akhir 2018 sudah mulai terlihat pergerakannya karena pemerintah sendiri sudah mengeluarkan beberapa kebijakan seperti kebijakan FTV dan LTV. Selain fokus pada beberapa sektor, kata Yuliani, perbankan akan memperbanyak customer base baik dari pariwisata maupun properti di Bali sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan DPK.

Manager Bali & Nusa Tenggara Bank Mega, Ardhana Febrianaji mengatakan, penyaluran kredit menargetkan adanya kenaikan 20-25 persen pada 2018 ini. Untuk dapat meningkatkan penyaluran kredit 2018 ini,  bank akan tetap fokus dalam membiayai sektor UKM. Penyaluran ke sektor UKM tersebut porsinya mencapai 60- 65 persen dari keseluruhan pembiayaan dengan mengarah kredit ritel dan kosumer.

Diakui perbankan fokus pada sektor pertanian seperti harapan nawacita pemerintah. Perbankan harus mendukung sektor pertanian baik itu dari sisi permodalan maupan sarana lainnya, supaya petani bisa mempertahankan produktivitas sekaligus meningkatkan taraf hidup mereka.

“Idealnya lewat pemberian modal murah sehingga ketahanan pangan bisa kuat dan petani bisa mengakses dana murah dari perbankan,” katanya. Bila itu terwujud maka inklusi keuangan dan literasi keuangan akan bisa cepat terwujud. (dik)