Ini Alasan Tuntutan Daya Saing SDM Bali

Denpasar (Bisnis Bali) – Daya saing sumber daya manusia (SDM) Bali makin dituntut di era pasar bebas. Tak hanya yang bersaing di sektor kerja, tapi juga usaha. Dengan meningkatnya kualitas SDM Bali diharapkan mampu menghadapi kompetitor asing yang merebut peluang kerja strategis dan usaha di daerah. Demikian praktisi ekonomi, Ida Bagus Udayana Putra, S.E., M.M., Kamis (8/11).

Menuju naker Bali yang kompeten dan berdaya saing tinggi, tentu tak bisa lepas dari andil semua pihak. Terutama industri yang bersinergi dengan pihak kampus dalam menyelenggarakan magang kerja, maupun pihak terkait lainnya, baik pemerintah maupun swasta lewat pelatihan kewirausahaan. Sektor tak kalah berperan strategis yakni, lembaga keuangan daerah untuk meningkatkan peluang bagi wirausaha dalam penguatan permodalan, sehingga usaha yang dirintis makin berkembang.

Di lapangan, masih ditemui SDM lokal kalah saing dengan asing, contohnya tak sedikit posisi strategis di perusahaan – perusahaan besar diisi naker asing. Peluang ini harus direbut naker lokal sehingga perlahan mampu meningkatkan daya saing.

“Memang perlu proses untuk meningkatkan daya saing SDM di daerah. Yang terpenting upaya ke arah itu telah dilakukan terus niscaya ke depan akan mampu mengambil manfaat optimal dari persaingan pasar bebas ini,” imbuhnya.

Sebelumnya, pengurus Kadin Denpasar, Kusuma Wijaya menyampaikan, untuk sektor usaha, Bali memiliki berbagai potensi bisnis yang bisa digarap. Tinggal adanya niat dan kemampuan SDM Bali dalam mengembangkannya. Dengan berani memulali persaingan secara sportif diyakini pengangguran perlahan akan makin berkurang pun kemiskinan akan bisa ditinggalkan.

Menuju SDM Bali yang kompeten tentu pendidikan dan pelatihan hal mutlak. Di berbagai bidang kerja dan usaha bisa dilakukan dengan begitu perekonomian dapat ditingkatkan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, menyebutkan, jumlah penduduk usia kerja di Provinsi Bali pada Agustus 2018 mencapai 3.288.908 orang. Dari penduduk usia kerja tersebut, 76,78 persen (2.525.355 orang) merupakan angkatan kerja dan 23,22 persen (763.563 orang) merupakan bukan angkatan kerja.

Angkatan kerja pada Agustus 2018 orang bertambah 90.905 orang (3,73 persen) dibanding angkatan kerja Agustus 2017 (2.434.450 orang) atau berkurang 81.933 orang (3,14 persen) dibanding angkatan kerja Februari 2018 (2.607.288 orang). Jumlah penduduk yang bekerja di Bali Agustus 2018 mencapai 2.490.870 orang bertambah 92.563 orang (3,86 persen) dibandingkan keadaan Agustus 2017 (2.398.307) atau berkurang 94.073 orang (3,64 persen) dibandingkan keadaan Februari 2018 (2.584.943 orang).

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Bali pada Agustus 2018 mencapai 1,37 persen, mengalami penurunan 0,11 poin dibandingkan TPT Agustus 2017 (1,48 persen) atau mengalami kenaikan 0,51 poin dibandingkan dengan TPT Februari 2018 (0,86 persen)

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Agustus 2018 mencapai 76,78 persen naik 1,54 poin dibandingkan Agustus 2017 (75,24 persen) atau turun 3,05 poin dibandingkan Februari 2018 (79,83 persen).

Pada Agustus 2018, jumlah penduduk yang bekerja di sektor formal mencapai 50,37 persen, terdiri dari pekerja yang berstatus sebagai buruh/karyawan/pegawai mencapai 45,96 persen dan pekerja yang berstatus sebagai berusaha dibantu buruh tetap/dibayar mencapai 4,41 persen.

Sementara penduduk yang bekerja di sektor informal mencapai 49,63 persen, terdiri dari berusaha sendiri 14,03 persen, berusaha dibantu buruh tidak tetap 16,32 persen, pekerja bebas pertanian 3,01 persen, pekerja bebas non pertanian 4,50 persen dan pekerja keluarga 11,78 persen. (gun)