Dedi Ruswansyah, Gilir Tanam

GUNA menopang produksi sekaligus dalam kaitannya memutus rantai serangan hama penyakit pertanian tanaman padi, menurut pria bernama lengkap Ir., Dedi Ruswansyah., MM, tak hanya dibutuhkan pemilihan varietas tanaman padi saja. Upaya lain juga harus dilakukan, salah satunya melakukan gilir tanam.

Menurut Dedi yang menjabat sebagai Kasubdit Pengendalin OPT Seralia Derektorat Perlindungan Tanaman Pangan Dirjen Tanaman Pangan, selama ini petani cendrung monotun dalam mengadopsi varietas padi yang akan ditanam. Padahal, harusnya dilakukan gilir tanam dengan melakukan pemilihan varietas lain dalam periode tertentu.

“Dari banyak varietas padi, hanya sebagian kecil saja yang diadopsi oleh petani selama ini. Ironisnya lagi, pemanfaatannya pun juga cenderung monoton atau hanya mengadopsi varietas yang itu-itu saja,” tuturnya.

Gilir tanam menggunakan varietas padi yang berbeda ini penting dalam mencegah penurunan produksi padi, dan mencegah jadi tempat tumbuh suburnya hama dan penyakit. Paparnya, menjaga produktivitas dan kualitas hasil yang didapat pada musim panen, petani tidak cukup hanya mengandalkan penggunaan varietas padi yang unggul sesuai dengan kondisi lingkungan.

Artinya pada periode tertentu harus dilakukan pergiliran varietas padi yang di tanam. “Semisal satu tahun menggunakan Ciherang, maka beberapa tahun berikutnya menggunakan varietas padi Bundo Yudo,” tuturnya.

Selama ini petai padi hanya terpaku pada varietas Ciherang saja. Akuinya, memang varietas tersebut memiliki sifat ketahanan tehadap serangan wereng, namun bila dibudidayakan atau diusahakan secara terus menerus, maka ketahanan terhadap hama wereng ini bisa jadi berkurang dan akhirnya berpengaruh pada hasil produksi padi yang merosot .

Di sisi lain terangnya, varietas Bundo Yudo ini sudah sejak lama ada. Keunggulan varietas Bundo Yudo ini  memiliki ketahanan terhadap wereng hijau. Sebenarnya, untuk di Bali penggunaan varietas Bundo Yudo sebagai pilihan lain dari varietas dengan penerapan gilir tanam ini sangat tepat. Pertimbangannya, Bali merupakan daerah endemis tungro, dimana tongro ini ditularkan oleh hama wereng hijau. Agar tungro tidak berkembang, maka wereng hijaunya yang harus ditangani jangan sampai populasi tinggi.

“Namun selama ini varietas Bundo Yudo belum banyak diadopsi oleh petani padi. Sebab,  selama ini petani lebih menyukai varietas yang katanya menjanjikan, seperti  Ciherang, Makongga, dan itu diadopsi terus menerus setiap budi daya,” ujarnya. (man)