Tabanan (Bisnis Bali) – Penderitaan yang dialami sejumlah peternak ayam petelur di Kabupaten Tabanan masih berlanjut. Setelah dihadapkan kenaikan harga pakan oleh sejumlah pabrikan beberapa waktu lalu, dalam waktu dekat hal sama kembali akan diberlakukan untuk kenaikan komoditi tersebut.

“Rencana kenaikan tersebut, kami sudah diinfokan oleh pabrik pakan yang rencananya direalisasikan pada 7 November mendatang,” tutur salah seorang peternak ayam petelur di Desa Buruan Tabanan, Darma Susila, Selasa (6/11).

Dari info kenaikan harga oleh kalangan pabrikan pakan, rencananya berada di kisaran Rp150 per kg untuk pakan jadi dan konsentrat. Artinya, nanti untuk pakan jadi akan naik dari harga Rp5.950 per kg menjadi Rp6.100 per kg.

Bila rencana kenaikan tersebut terealisasi, lonjakan harga tersebut merupakan kenaikan untuk yang kali ke 4 selama beberapa bulan terakhir atau dihitung sejak posisi rupiah melemah dari posisi Rp14.500 per dolar AS. Selama kenaikan harga pakan ini, kalangan pabrikan rata-rata menaikan harga dengan range dikisaran Rp100-Rp200 per kg.

Terkait makin mahalnya harga pakan ini, berdampak pada posisi peternak yang makin merugi. Sebab, lonjakan harga pakan yang telah terjadi berulang-ulang ini, tidak searah dengan kondisi harga jual produksi (telur ayam) di pasaran yang justru mengalami tren penurunan hingga kini.

“Saat ini saja posisi harga telur ayam ini terus turun dari sebelumnya dengan menyentuh level Rp 1.070 per butir ditingkat peternak. Harusnya dengan posisi harga pakan yang berlaku saat ini, harga terlur ayam ini bisa diperdagangkan di level Rp 1.200 per butir, namun itu tidak terjadi,” ujarnya.

Akuinya, meski berada dalam posisi makin terjepit, kalangan peternak ayam petelur ini tak bisa berbuat banyak. Kondisi ini sekaligus menimbulkan kekhawatiran, dengan makin mahalnya biaya produksi akan berpotensi mengurangi populasi ternak atau produksi telur ayam di kalangan peternak. Terlebih lagi dalam waktu yang berbarengan harga jagung yang merupakan produksi dalam negeri ini juga ikut terkerek naik.

“Dengan kondisi itu semua, ke depannya ada kemungkinan membuat harga telur ayam ini akan berada dalam posisi yang tidak terkendali,” tandasnya.

Sementara itu, data di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tabanan mencatat, per 5 November 2018 harga komoditi telur ayam di pasaran berada di kisaran stabil dibandingkan dengan posisi harga minggu lalu. Itu tercermin dari telur ayam ras masih stabil diperdagangkan pada posisi Rp 35.000 per kg atau Rp1.500 per butir. Hal sama juga terjadi pada telur ayam kampung yang juga stabil di level Rp 2.000 per butir, telur itik stabil di Rp 2.500 per butir, dan telur asing stabil Rp 3.000 per butir. (man)