Denpasar (Bisnis Bali) – Perayaan Dipawali tahun ini ternyata tak mampu mendongkrak penjualan alat sembahyang. Penjual alat sembahyang di kawasan Grenceng Denpasar, Andi Wijaya mengatakan tak ada kenaikan.  Berbeda dengan tahun lalu, penjualan alat sembahyang seperti dupa, minyak penerangan dan lainnya mengalami peningkatan sekitar 50%. Namun tahun ini tak ada peningkatan penjualan, padahal pihaknya sudah menyiapkan pasokan barang lebih.

“Bisnis sekarang sepi, ya memang untuk alat sembahyang orang tidak butuh setiap hari. Kalau mereka sudah beli dupa satu kilogram, kan bisa cukup untuk dua bulan jadi tidak setiap saat membeli,” tuturnya Rabu (7/11) di Denpasar.

Apalagi dengan makin ketatnya persaingan dan banyak orang menjual alat sembahyang, sehingga sangat berdampak pada penjualan. Persaingan antara dupa impor dan dupa lokal juga diakui semakin ketat.

Untuk minyak penerangan yang biasanya digunakan saat perayaan Dipawali per satu liter dibandrol dari Rp 20 ribu hingga Rp 22.500. “Bedanya yang harga Rp 20 ribu sering mengental. Jadi selisih harga Rp2.500 kualitasnya lebih baik,” tukasnya. Untuk harga sumbu Rp6 ribu satu bungkus dan pelampung Rp10 ribu isi 5.

Dikatakan, dengan kondisi ekonomi seperti saat ini banyak konsumen yang memilih beralih ke produk yang harganya lebih murah. Seperti halnya dupa yang diminati saat ini adalah dupa lokal yang harganya lebih murah karena dupa impor memang lebih mahal.

“Kadang banyak konsumen yang kurang jeli dalam membeli dupa, Rp 5.000 memang kedengarannya murah tapi ternyata isinya sedikit cuma 12 batang. Kalau dibandingkan membeli yang kiloan Rp 50 ribu memang terdengar mahal tapi isinya bisa 500 batang, kan jauh lebih hebat,” tukasnya.

Berbicara kualitas dupa, dikatakan sangat beragam. “Dupa impor kualitasnya lebih bagus dari dupa lokal, batangnya halus dan abu tidak panas di tangan. Sedangkan dupa lokal kualitas lebih kasar dan abu panas di tangan,” ucapnya.

Sedangkan perbedaan antara dupa impor dari China dan India adalah dari segi aroma. Dupa China aroma cenderung lebih lembut, sedangkan dupa India aroma lebih menyengat. “Aroma dupa tergantung selera konsumen. Kalau mau yang aromanya keras saya sarankan beli yang dari India, sedangkan kalau yang suka aroma lembut lebih baik memilih dupa China,” tukasnya. (pur)